Toko KueDa
Toko KueDa
Aqila
Dwi Salsabila
Pukul 12.00 WITA, tanggal 16 Maret 2002, lahirlah seorang
anak perempuan bernama Dinda. Ia lahir di keluarga yang kurang mampu, namun
mereka tetap bahagia. Orang tua Dinda bekerja sebagai pedagang di pasar.
Seperti biasa, setelah sekolah usai Dinda pergi ke pasar untuk membantu kedua
orang tuanya. Tahun demi tahun pun berlalu, pada saat ulang tahun Dinda ke-7,
ia harus menerima kabar yang buruk. Orang tua Dinda berkelahi karena hutang di
pasar yang belum lunas serta SPP Dinda. Lalu datanglah hari dimana hari yang
sangat menyedihkan bagi Dinda dan ia harap hari itu tidak pernah terjadi,
dimana orang tua mereka pisah rumah dan cerai. Ayah Dinda pergi merantau ke
pulau sebelah untuk mencari pekerjaan baru, sedang Dinda dan ibu tetap di desa
dan bekerja seperti biasa. Tanpa disadari ternyata saat
perceraian, sang ibu sedang mengandung seorang bayi laki-laki dan sudah 2
bulan. Sehingga ketika sang ayah sudah pergi merantau dan belum kembali,
lahirlah adik Dinda bernama Ahmad. Akhirnya mereka hidup bertiga di rumah kayu
yang kecil dengan kebun sayur serta buah di belakang rumah.
“Ibu! Tomatnya sudah berbuah! Aku mau petik ya!” Teriak
Ahmad.
Dinda dan Ahmad memetik beberapa sayur dan buah di
belakang rumah untuk dijual di pasar. Kini, sang ibu berhenti berjualan di
pasar karena tidak ada tempat lagi untuk berjualan serta mahal jika ingin
menyewa tempat di pasar, sehingga mereka hanya menjual sayur dan buahnya kepada
pedagang pasar. Kerjaan sang ibu saat ini hanyalah membuat kue sederhana dan
menjualnya di depan rumah, sedang yang berkeliling menjual adalah Dinda dan
Ahmad. Meski sudah berkeliling, namun uang yang terkumpul belum cukup untuk
kebutuhan sehari-hari dan SPP Dinda dengan Ahmad. Sekarang Dinda sudah SMP unggulan
karena beasiswa sedang Ahmad masih SD. Ketika Dinda dan Ahmad menuju ke pasar
untuk menjual sayur dan buahnya, mereka melihat ayahnya yang baru saja pulang
dari merantau dan melihat seorang wanita berkulit putih, pendek, namun cantik,
dia adalah Maya, istri ayah Dinda sekarang. Dinda yang ingin menyapa ayahnya
namun melihat ayahnya sibuk mengangkat barang dan bercanda dengan istri, ia
tidak jadi menyapa dan mempercepat langkahnya menuju ke pasar.
Rumah 6 x 3 m ditempati oleh Dinda, ibu, dan Ahmad. Subuh
sudah datang, saatnya untuk bangun. Dinda bersama ibu mulai membuat kue sedang
Ahmad menyiapkan sarapan. Setelah sarapan bersama, Dinda dan Ahmad mulai
bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sesudah membantu ibu merapikan dagangan
kue di depan rumah, mereka pergi ke sekolah sambil membawa kardus yang berisi
kue. Sesampainya di sekolah, Dinda
menitipkan kuenya di ibu kantin, kemudian ia ke kelasnya untuk mengikuti pembelajaran.
Setelah pembelajaran selesai, Dinda mengganti bajunya lalu mengambil
dagangannya dan menjemput adiknya. Selesai menjemput, saatnya mereka pergi
mengenlilingi kota untuk berjualan kue. Terkadang kue mereka tidak habis, namun
mereka tetap mensyukurinya. Meski kadang sinar matahari membuat kulit mereka
terbakar dan menjadi gelap namun mereka tetap berusaha untuk mencapai masa
depannya.
Hari mulai berakhir, saatnya untuk pulang kembali ke
rumah. Perjalanan pulang ke rumah, ternyata sang ayah tinggal dekat dari rumah
dan ia sedang ada di luar rumah. Dinda bersama Ahmad lari ke ayah sambil
berteriak dan memeluknya,
“Ayah!” teriak Dinda
dan Ahmad.
“Wah, anak ayah sudah
besar. Ayah senang melihat kalian.” ujar sang ayah.
“Ayah kenapa tidak
pulang ke rumah lagi?” tanya Ahmad yang penasaran.
“Ayah sudah tidak bisa
kembali lagi ke rumah, Nak. Inilah rumah ayah yang baru.”
“Ayah? Bantu kami ayah!
Kami tidak ada uang, dan aku harus membayar SPP Ahmad serta beli buku tulis
untuk keperluan sekolahku. Ayah kan punya uang karena baru pulang dari merantau.
Ayah bisa lihat, kue kita tidak habis.” kata Dinda.
“Maafkan ayah, Nak.
Ayah juga tidka punya uang kali ini. Ayah ingin membeli mobil. Lain kali saja
ya, Nak.”
“Baiklah, Ayah. Kami
mengerti.” jawab Dinda dan Ahmad.
“HEY?! NGAPAIN KALIAN
DISINI?! KALIAN ITU TIDAK LEVEL DAN TIDAK BERHAK MENGINJAK RUMAHKU! JANGAN
PERNAH GANGGU SUAMIKU LAGI! PERGI SANA!” teriak Maya dari teras rumah.
Dinda dan Ahmad yang
ketakutan lari keluar dari rumah tersebut dan pulang ke rumahnya. Sang ayah
tidak bisa berkata apa-apa dan ia masuk ke dalam rumahnya.
Ketika matahari sudah tak terlihat, barulah Dinda dan
Ahmad sampai. Sang ibu yang khawatir dari tadi segera memeluknya dan menanyakan
kenapa ia terlambat. Dinda menceritakan semua yang terjadi tadi, sang ibu
tersenyum mendengar cerita mereka berdua. Ibu mulai menyuruh kedua anaknya
untuk membersihkan dirinya lalu pergi ke masjid untuk salat Magrib. Selesai
mereka salat Magrib mereka membaca Al-Qur’an sambil menunggu waktu salat Isya.
Ketika waktunya tiba, mereka salat berjamaah lalu pulang kembali ke rumah. Di
rumah, mereka makan malam, lalu menghitung penghasilan hari ini sambil
mengerjakan PR. Ketika semua sudah selesai, saatnya untuk mengistirahatkan
diri.
Hari mulai berganti dengan yang baru, dan begitu
seterusnya. Sekarang sudah masuk akhir Mei, dimana semua orang mulai
mempersiapkan dirinya untuk puasa Ramadhan. Seperti biasa, mereka bangun saat
Subuh dan mempersiapkan segalanya. Hari ini, Ahmad demam sehingga ia tidak bisa
pergi ke sekolah, sehingga Diana sendiri pergi berjualan. Saat di sekolah,
seperti biasa Diana diejek oleh teman-temannya karena pergi berjualan kue.
Diana menghiraukannya dan fokus belajar agar mendapatkan beasiswa lagi.
Ting…tong…ting…tong…
Bel pun berbunyi, tanda untuk mengakhiri pembelajaran hari
ini. Diana memasukkan buku-bukunya, lalu ia mengganti baju seragamnya dan
mengambil kue yang ia titip di ibu kantin. Sebelum ia keluar dari pagar
sekolah, ia dipanggil oleh admin sekolahnya. Lalu,
“Dinda? Maaf nak saya
mau nanya. Kapan kamu mau bayar buku cetak?”
“Maaf, Bu. Uang saya
belum cukup untuk membayar buku saya. Mungkin saya akan membayarnya setelah
lebaran saja ya, Bu.”
“Baiklah, saya mengerti
kok, Nak. Ya sudah.”
Setelah bertemu ibu
admin, saatnya untuk berkeliling, biar tanpa Ahmad ia sudah terbiasa jualan
sendiri. Mungkin hari ini adalah hari yang sangat tidak disuka oleh Dinda
karena adiknya sudah sakit, ditagih untuk bayar buku cetak, diejek teman-teman,
bahan kue yang sudah mau habis, dan baju lebaran serta mukenah yang sudah
rusak. Dinda semakin semangat untuk menjual kue-kuenya. Hari sudah sore, dan
kuenya belum ada yang terjual. Ia melihat ayahnya yang berdiri di trotoar kota,
Dinda berlari ke ayahnya, lalu
“Ayah!” teriak Dinda
berlari menuju ayahnya.
“Anakku, Dinda.” sorak
ayah.
“Ayah, lihat kueku
belum habis, ayo ayah beli kueku.”
“Maaf, Nak. Dompet ayah
sedang kosong nih.”
“Ouu, baiklah. Ayah
ngapain di sini?”
“Ayah sedang menunggu
Maya.”
“Hmmm… ayah, bisakah
ayah memberikanku uang? Baju lebaran dan mukenahku sudah rusak, sama seperti
punya Ahmad dan ibu sedang uangku tidak cukup untuk membelinya. Bisakah ayah
menambahkan uang? Aku juga harus membayar SPP Ahmad serta buku cetakku.
Kumohon, ayah.”
“Sekali lagi, maafkan
diriku, Nak. Uang ayah baru saja habis untuk keperluan Maya. Jika ayah sudah
punya uang lagi, ayah janji akan memberikannya kepadamu.”
“Baiklah, Ayah. Mungkin
aku harus pergi berjualan lagi, takutnya nanti sudah malam.”
“Baiklah, Nak.”
Dinda
pergi meninggalkan ayahnya dan tetap menjual kuenya. Hari sudah sore dan kue
Dinda belum laku sama sekali. Dinda mulai duduk di pinggir trotoar dan menangis
melihat kuenya yang tidak laku sama sekali. Ia memikirkan segalanya. Tiba-tiba
datang seorang wanita menggunakan pakaian rapi. Wanita itun menghampiri Dinda
dan menanyakan apa yang terjadi padanya,
“Hey?
Kamu kenapa menangis?” tanya wanita itu.
“Iya?
Aku..ti..dak..apa-apa, Bu.” jawab Dinda sambil menghapus air matanya.
“Iyakah?
Baiklah. Terus, apakah kau menjual kue-kue itu?”
“Iya,
Bu. Apa ibu mau beli? Dari tadi belum ada yang membeli kueku dan aku membutuhkan
uang untuk membeli baju lebaran nanti.”
“Hmmm…
Kelihatannya enak, saya beli semua ya! Mumpung saya juga mau singgah di rumah
keluarga.”
“Sungguh?!
Baiklah! Saya bungkus dulu ya, Bu!”
“Oke!”
sorak wanita itu sambil mengedipkan matanya.
“Ini,
Bu. Sekali lagi makasih ya, Bu!”
“Sama-sama.
Saya mau memberitahu sesuatu kepadamu.”
“Apa
itu?”
“Seseorang
yang berusaha diawal dan bersusah-susah, kelak kau akan menjadi orang yang
sangatlah sukses dan kau akan dicari-cari. Ingat kata-kataku. Itu bisa jadi
motivasi kamu untuk tetap bersemangat, ya!”
“Terima
kasih, Bu. Kamu sangatlah baik. Saya akan mengikuti kata-katamu.”
“Jangan
panggil aku ibu, panggil saja aku kakak. Mungkin mau hujan, langit sudah
mendung nih. Mari saya antar pulang.”
“Iya,
Kak. Maaf merepotkan. Sekali lagi saya sangat berterima kasih, Kak.”
“Sama-sama.”
Akhirnya
Dinda diantar oleh wanita itu sampai ke rumah menggunakan mobil yang mewah.
Ternyata wanita itu adalah seorang CEO perusahaan kue yang sangat terkenal
hingga luar negeri. Ia penasaran melihat Dinda menangis dan sangat menyukai kue
Dinda. Wanita itu berkenalan dengan ibu Dinda dan Ahmad. Ia kini selalu
membantu sang ibu dan Dinda berjualan, membelikan Dinda, Ahmad, dan ibu baju
lebaran. Ia pula sudah melunasi SPP Ahmad serta buku cetak Dinda. Dia semakin
dekat dengan Dinda, dari ia mau menginap di rumah Dinda, membuat kue bersama,
bermain bersama, mengerjakan tugas bersama, pergi berjualan bersama, berpuasa
bersama, pergi lebaran bersama, dan lain-lain.
Pukul 06.00 WITA, hari libur telah tiba!
Sesudah lebaran, sekolah Dinda dan Ahmad libur selama 1 minggu. Selama itu,
Dinda, Ahmad, dan ibu dibawa oleh wanita itu jalan-jalan pergi mengelilingi
kota. Ketika hari mulai siang, mereka dibawa ke kantor wanita itu. Mereka
dihargai sebagai tamu. Lalu wanita itu memperlihatkan sebuah foto gedung yang
mewah dan bagus. Dinda terkejut dan kagum pada gedung itu.
“Gedung
apa ini, Kak?” tanya Dinda.
“Tadaaa!
Kejutan! Saya membuatkanmu toko kue! Ini mungkin dapat membantumu untuk lebih
mudah berjualan kue tanpa harus mengelilingi kota lagi.” sorak wanita itu.
“WAH!
Terima kasih, Kak. Kau sungguh baik pada kamj. Kami tidak bisa membalas
jasa-jasa mu, Kak.” kata Dinda dengan senangnya.
“Sama-sama.
Kamu tinggal mengurusnya saja dan memberitahu pada chef cara membuat kuenya.
Semua staffnya juga sudah ada. Kamu tinggal memutuskan kapan dibuka toko ini
dan memberi nama.”
“Oh!
Terima kasih, Dek. Kamu sangatlah baik terhadap kami.” Kata sang ibu sambil
menangis terharu.
“Jangan
menangis, Bu. Saya hanya sedikit menolong, Bu. Mari kita lihat tokonya Dinda.”
“Ayo!
Aku mau lihat!” teriak Ahmad.
“WAH!” teriak Dinda.
Dinda tidak sanggup melihat tokonya
sendiri. Ia terharu dan sangat senang melihatnya. Ia memeluk ibunya dan
adiknya. Kemudian ia pun memberi nama tokonya, KueDa (Kue Dinda).
Pertama
kali toko itu buka sudah banyak pelanggan yang datang dan mengatakan kuenya
sangat enak. Dinda semakin semangat untuk menjaga tokonya. Kini, ia menjadi CEO
dari tokonya sendiri. Sungguh, ketika kau sudah berusaha yang terbaik, maka
yakinlah kau akan dapat lebih dari yang kau lakukan.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar