Di Desa itu Mengasyikkan!

Di Desa itu Mengasyikkan!
Aqila Dwi Salsabila

Pagi hari yang cerah telah tiba, Cantika sambil cemberut merapikan bajunya dan memasukkan ke koper, tiba – tiba Ibu Cantika memanggil,”Hey nak! Ayo cepat! kita nanti terlambat !” Cantika pun segera turun membawa koper dan pergi ke terminal. Sampai di terminal Cantika bersama keluarganya membeli tiket lalu menunggu mobil yang akan dinaiki. Inda datang dan berkata,
”Cantika kamu mau pergi?”
“Iya, Kamu tau dari mana?!” jawab Cantika.
“Ya, si Rania, itu tuh yang tetanggaku, teman les mu. Hati – Hati yah!Awas di desa ada kotoran sapi! Ieww!”kata Inda.
“Ouu begitu yah. Hmm, Makasih atas saranmu!”jawab Cantika.
Akhirnya Cantika dan keluarga berangkat ke desa. Sesampainya di desa semua keluarga Cantika senang, hanya Cantika yang tidak senangkarena yang ia pikirkan desa itu kotor dan bau. Ayah Cantika pun memanggil seseorang, ternyata dia adalah nenek Cantika yang sudah menunggu mereka. Cantika masih merinding dan takut melihat sekitar desa karena dia takut kalau ada kotoran di sepatu barunya, lalu dia takut bajunya akan kotor karena terkena debu di desa ini. Cantika dan kakaknya pun mengambil kopernya lalu jalan kaki ke rumah nenek, karena kebetulan rumah nenek tidak jauh dari terminal.
Cantika sampai di rumah nenek dan dia langsung bertanya,
“Nek! Dimana kamar aku?! Aku mau tidur! Aku capek! Jangan sampai kamarku kotor dan bau yah!”
“Iya, Kamar khusus buat cucuku yang cerewet ini ada di lantai dua, Di loteng yah!”Jawab Nenek Cantika dengan lembut.
Lalu Cantika mengangkat kopernya dengan wajah cemberut langsung ke lantai dua. Cantika dengan cepat mengambil dan memainkan handphone-nya lalu chating di line bersama Inda. Kemudian Kakak Cantika datang ke lantai dua dan langsung mengganti bajunya dari baju berkerah menjadi baju kaos, karena dia ingin bermain bola di samping rumah. Di samping rumah Nenek Cantika terdapat lapangan bola yang luas,jadi kakaknya bisa sepuasnya bermain bola. Lalu Ayah Cantika memanggil Cantika untuk turun, namun Cantika menolaknya.
“Cantika, ayo turun. Ayah mau beri tahu sesuatu.” kata Ayah Cantika.
“Aku tidak mau! Aku capek tau! Ayah sih,disini kan ada bandara, kenapa tadi tidak naik pesawat saja?!” Jawab Cantika dengan nada kasar.
Akhirnya Ibu Cantika naik ke lantai dua, Lalu berkata,
“Nak, kamu disuruh turun sama ayahmu loh, Kamu mau diajak ayahmu memancing.”“Aku tidak mau! Nanti kulitku hitam tau, Bu!”Jawab Cantika dengan marah.
“Tapi kan kamu bisa pakai sunblock, ADCE!Sekalian, kamu kelilingi desa ini.”Kata Ibu Cantika
“Iya deh, Bu. Aku ganti baju ku dulu, tapi tunggu, Apa itu ADCE, Bu?”Tanya Cantika.
“ADCE itu = ADikCErewet! Hehehe…Ya sudah ini sunblocknya, ganti baju cepat, kasihan ayahmu nanti menunggu lama lagi.”Kata Ibu Cantika.
“Iya, Bu.”Jawab Cantika dengan wajah cueknya.
 Dengan terpaksa Cantika ikut memancing dengan ayahnya. Cantika dengan wajah cemberut turun ke lantai satu dan langsung memakai jas hujan, sepatu boot, serta masker. Ayah Cantika dengan wajah heran sambil tersenyum bertanya,
”Loh, kok kamu pakai begituan segala? Emangnya diluar hujan yah? Kayaknya tidak deh.”
“Emang tidak kok! Aku pakai jas hujan agar kulitku tetap putih,tidak terkena panas matahari yang sangat panas disini, trus aku pakai sepatu boot agar ketika aku menginjak lumpur di desa tidak kena betis ku, lalu aku pakai masker agar aku tidak hirup udara kotor di desa yang terkenal dengan penambangannya tau!” dengan panjang lebar Cantika menjelaskan.
“Eh? Aku kira kamu udah pakai sunblock nak?” tanya Nenek Cantika.
“Emang sudah! Tapi aku tetap mau pakai ini! Udah deh, Gak usah atur – atur aku!”dengan muka sinis Cantika.
“Ya sudah, tidak usah dipermasalahkan lagi, ayoCantika kita pergi, Bu, Ma, aku pergi dulu, Assalamu Alaikum!” kata Ayah Cantika
“Iya, Hati – hati yah! Waalaikum salam!” jawab nenek dan ibu Cantika bersamaan.

Bremm…
Cantika dan ayahnya berangkat menuju danau, tapi orang Soroako sering mengatakannya dengan nama Pantai Ide. Saat perjalanan ke Pantai Ide, Cantika dengan wajah yang bosan melihat sekeliling pohon – pohon yang berdiri kokoh setiap pinggir jalanan. Ayah Cantika tetap diam dan membiarkan anaknya yang terkenal dengan cerewetnya itu melihat sekeliling jalanan. Cantika dibawa jalan – jalan oleh ayahnya, saat melewati jalan menuju Pantai Ide, Cantika berkata, “Loh?! Kok ayah melewati jalannya? Ayah sudah lupa yah? Kan lewat situ.”
“Ternyata kamu masih ingat jalannya yah, Padahal ayah sama ibu membawa mu ke desa ini sudah 5 tahun yang lalu. Ayah sengaja melewatinya, ayah ingin membawamu ke sesuatu tempat di Pontada sana. Semoga setelah melihatnya, kamu mulai bisa menyukai desa ini.” Kata Ayah Cantika.
“SEKALIPUN AYAH MEMPERLIHATKANKU APAPUN TENTANG DESA INI, AKU TETAP TIDAK AKAN PERNAH MENYUKAI DESA INI! TITIK! NO COMMENT!” kata Cantika dengan nada tinggi dan marah.
Ayah Cantika hanya menanggapi dengan tersenyum.
Setelah sampai, Ayah Cantika membuka pintu mobil lalu menarik Cantika. Dengan penuh senyuman, Ayah Cantika memperlihatkan keindahan Desa Soroako dari atas bukit. Cantika membuka mulutnyayang lebar dan terkejut melihat keindahan dari bukit, lalu dengan cepat Cantika mengambil handphone-nya untuk mengambil foto yang menurutnya pemandangan ini sangat luar biasa, kemudian Cantika menyuruh ayahnya untuk mengambil foto dirinya ( Cantika mau selfie di atas bukit --“ ). Setelah mengambil foto anaknya, Ayah Cantikaberkata, “Bagaimana? Kamu menyukainya kan? Berarti jika kamu menyukainya artinya kamu mulai menyukai desa yang indah ini, Iya kan?”
“Aku hanya menyukai tempat ini, karena di sini sejuk udaranya, bebas polusi, dan sangat hijau, tapi tetap aku tidak menyukai desa ini, hanya tempat ini yang aku sukai di desa ini.” jawab Cantika.
“Kalau begitu kamu tinggal disini dulu sebentar yah, Ayah mau pergi memancing, Sekalian kamu melihat Pemandangan Desa Soroako dari atas bukit sini, Can? Nanti kamu akan menyukainya, tunggu saja.” tanya Ayah Cantika.
“Tidak Mau! Aku takut ditinggalkan disini sendirian! Aku kan anak yang manis, nanti aku diculik sama orang desa sini, Ayah!” Jawab Cantika dengan wajah mohonnya + kesal.
“Ya sudah, ayo masuk ke mobil, kita pergi memancing.” Kata Ayah Cantika.
Akhirnya setelah Cantika dibawa dari bukitdi Pontada oleh ayahnya, dia dibawa ke Pantai Ide.
Saat di pantai, Cantika mengambil pancingan yang khusus buatnya dari ayahnya lalu melemparnya ke air sambil melihat wajahnyadi air. Ayah Cantika mencoba menghiburnya dengan mengikuti apa yang ia buat, ketika muka Cantika cemberut , ayahnya pun ikut cemberut, ketika Cantika mengambil handphone-nya dan melihat facebooknya, ayahnya pun melakukan yang sama. Cantika dengan curiga mencoba untuk membuat ayahnya pusing mengikutinya dengan cara break dance ditrotoar yang ada di pantai, ayahnya pusing mengikuti anaknya, lalu ayahnya menyerah, dia melakukan semua itu hanya untuk menghibur anaknya yang sangat suka galau saat di desa. Akhirnya Cantika memperlihatkan wajah senangnya dan memeluk ayahnya yang sangat baik kepadanya, saat Cantika memeluk ayahnya, tiba – tiba pancingannya mendapatkan ikan. Cantika berusaha untuk menarik dengan sekuat tenaga, sampai – sampai ayahnya juga ikut terlibat menarik pancingan Cantika. Setelah mengeluarkan semua tenaga akhirnya ikandapat ditarik dan ikannya langsung terlempar ke trotoar, ikan yang didapat sangatlah besar dan ikan itu adalah Ikan Bolu! Ikan Bolu adalah ikan yang paling disukai oleh Cantika dan ibunya. Kemudian Cantika dengan semangat ingin mendapatkan Ikan Bolu lagi agar dapat memakan Ikan Bolu lebih banyak , karena di kota sangat sulit untuk mendapatkan Ikan Bolu segar sehingga ia memancing dengan menggunakan umpan yang lebih banyak dari yang sebelumnya. Dengan melihat anaknya yang semangat, Ayah Cantika senang, semangat, dan tidak mau dikalah oleh anaknya. Ternyata perjuangan mereka berdua tidak sia – sia, mereka berhasil membawa pulang sebanyak 20 ekor Ikan Bolu yang besar! Cantika dengan ayahnya sungguh tidak menyangka akan mendapatkan ikan sebanyak itu, namun Cantika optimis akan menghabiskan hasil tangkapannya itu bersama ibunya. Cantika mendapatkan 15 ekor Ikan Bolu sedangkan Ayahnya hanya mendapatkan 5 ekor Ikan Bolu saja. Dengan sifat humoris ayahnya, dia berusaha membuat Cantika tertawa dan gembira. Akhinya Cantika mulai senang bersama ayahnya, sejak kecil Cantika hanya lebih menyukai ibunya, namun sekarang ibunya lebih dekat ke kakaknya, maka dari itu Cantika mencoba untuk mendekati ayahnya. Ternyata, mendekati ayahnya sangatlah mudah. Dari situ lah Cantika mulai menyukai memancing, apalagi memancing bersama keluarga terutama bersama sang ayah.
Setelah memancing dan merasa puas, sebelum pulang Cantika pasti selfie, dimanapun tempatnya, itu adalah hobinya, sambil membawa ikan hasil tangkapannya Cantika selfie. Dia ingin memamerkan di facebook, tweeter, path, line, kakao talk, instagram, we chat, BBM (Blackberry Messangger), DLL. Cantika terkenal di sekolahnya yang mempunyai semua akun social media di internet , itu adalah salah satu hobinya juga yaitu anak social media , Cantika pun masuk di salah satu blog kumpulan anak social media , yaitu yang mempunyai semua akun social media di internet dan Cantika menjadi ketua pada tahun ini di blog itu. Kenapa pembicaraannya kesitu yah? kita lanjutkan ceritanya. Tiba – tiba saat Cantika menekan tombol bergambar camera di application camera, dengan sigap ayahnya ikut juga dibelakang berpose jempol. Setelah selesai selfie, tanpa menyadari selama ini ayahnya ikut dibelakang, saat melihat hasil fotonya, Cantika kaget,tertawa terbahak – bahak, dan tidak menyangka bahwa ayahnya ternyata juga jago selfie.
Setelah menaruh barang di garasi mobil, Cantika dan ayahnya pun pulang kembali ke rumah nenek Cantika. Sambil meng-upload fotonya tadi di bukit dan di Pantai Ide tadi, Cantika tidak melewatkan berselfie bersama ayahnya di dalam mobil, Ayah Cantika langsung berkata, “Ok! Sudah dulu ya nak, ayah menyetir dulu.”
“Ok, Yah!” Jawab Cantika dengan senyum.
“Begitu dong, senyum! Kan kamu jadi cantik kalau senyum, daripada memperlihatkan ke nenek, ayah, ibu, kakak, dan orang – orang di desa ini wajah cemberutmu, lebih baik wajah senyummu itu.” Kata Ayah Cantika.
“Memang sih, betul kata ayah, tapi aku masih teringat tentang kata - kata temanku katanya desa itu kotor, bau, anak – anak yang tinggal di sini itu gak ada etikanya, betul gak sih, Yah?” Tanya Cantika.
“Itu semua salah besar, di desa itu udaranya lebih bersih daripada di kota, karena di desa banyak pohon, jadi kita tidak merasa panas melainkan kita merasa sejuk. Sedangkan di kota ada asap pabriklah, asap kendaraanlah, lalu di kota itu jarang banget ada pohon di setiap pinggir jalan, kamu hanya ditakut – takuti oleh teman – temanmu. Anak – anak disini sebetulnya baik, rapi, sama seperti orang kota, tapi yang membedakan antara anak kota dan desa kata orang – orang adalah tempat sekolahnya. Namun sekolah di desa sini itu fasilitasnya lebih bagus daripada di kota loh, lalu sekolahnya sangat besar, anak – anaknya sangat sopan dan rapi , di setiap kelasnya disediakan loker untuk masing – masing dan 2 AC(Air Conditioner).”  Kata Ayah Cantika panjang lebar.
“Wow! Begitu yah?! Tapi kan disini ada penambangannya, berarti udaranya pasti kotor kan? Hmmm, ayah, Aku mau pergi ke sekolah itu dong! Aku mau lihat sekolahnya,semuanya deh!”Kata Cantika.
“Kan disini banyak pohon, jadi otomatis udara dari pabrik akan dihisap oleh pohon, lalu di fotosintesis, lalu dikeluarkan deh jadi O2 (oksigen), hmm nanti ayah coba yah, karena sekarang sekolah itu penjagaannya sangat ketat.” Jawab Ayah Cantika.
“Ok, Yah.”Kata Cantika.
   Tiba – tiba Ayah Cantika mengingat sesuatu saat melewati Ontaeluwu(Gedung untuk presentasi,wisuda,dll) dan langsung memutar mobilnya dan memberikan weser ke kiri lalu belok kiri lagi lalu belok kiri lagi dan akhirnya berhenti. Ayah Cantika turun dari mobil dan menyuruh Cantika untuk turun dari mobil juga. Cantika langsung bertanya, “Yah, ngapain kita kesini?”
“Ayah mau beli roti, saat kecil ayah sering membeli bersama kakekmu ke sini hanya untuk beli roti saja, Ayo! Kamu pasti suka di dalam supermarket ini!”Jawab Ayah Cantika
Saat masuk ke dalam supermarket, Cantika tidak menyangka bahwa disini ternyata ada supermarket yang seperti ini. Kemudian Ayah Cantika dengan tersenyum melihat anaknya yang kaget sambil mengambil 2 bungkus roti tawar dan 1 selai strawberry, 1 mentega, 1 bungkus ceres lalu membayarnya. Cantika dengan cepat meminta kepada ayahnya untuk membeli es krim dan coklat, lalu ayahnya mengambil es krim dan coklat dan menambah uangnya untuk membayar tambahannya.
Setelah membeli di supermarket akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya yaitu mengelilingi Soroako. Saat itulah Cantika mulai merasakan nyaman berada di desa.Cantika melihat anak – anak bermain bola lalu mengingat kakaknya yang suka bermain bola, Cantika juga melihat anak – anak yang bermain sepeda di trotoar, jogging, duduk sambil bermain handphone-nya , selfie bersama temannya pakai tonggsis, mendengarkan musik, banyak deh saat di perjalanan. Ayah Cantika berbelok ke kanan dan menghentikan mobilnya, lalu mengajak Cantika untuk masuk ke suatu tempat. Setelah masuk ternyata tempatnya penuh dengan tumbuhan, ada bibit – bibit tumbuhan, ada tumbuhan yang di cangkok, dll. Di peraturan tempat itu dituliskan setiap warga berhak mendapatkan 5 bibit dalam setahun. Cantika langsung bertanya,”Ayah mau ambil bibit yah? Tempat ini namanya apa, Yah?”
“Iya betul, Ayah ingin menanam durian, mangga, manggis, kedondong,dan lombok (cabe) di pekarangan rumah nenek , kasian tidak ada sama sekali tumbuh tumbuhan di depan rumahnya, nenekmu itu suka menanam loh! Namun tidak ada yang bisa mengambilkan bibit – bibit tanaman untuk nenek, jadi ayah ingin mengambilkan buat nenek. Nama tempat ini adalah Nursery.”Jawab Ayah Cantika.
“Ooou, nenek suka menanam. Eh ayah cepat nanti ikan di dalam mobil keburu busuk.”Kata Cantika.
“O iya yah! Ayah lupa! Ayo cepat Cantika bantu ayah bawa bibit tanaman ini.”Kata Ayah Cantika.
“Ok yah!Siap!” Jawab Cantika.
Setelah mengambil bibit tanaman, mereka dengan cepat menyetir mobil menuju ke rumah nenek, mereka tidak jadi mengelilingi Soroako karena takut Ikan Bolunya nanti busuk.
Saat sampai di rumah, Cantika dengan cepat membawa ikan hasil tangkapannya ke dapur lalu memanggil ibunya dan neneknya. Ibunya dengan kaget melihat hasil tangkapan Cantika dengan ayahnya, Ibu Cantika langsung semangat untuk memasak ikan kesukaannya. Setelah membantu nenek dan ibunya, Cantika langsung naik ke lantai dua dan mandi sore. Setelah merasa segar habis mandi, Nenek Cantika menyuruhnya untuk memanggil kakaknya, lalu Cantika dengan cepat memanggil kakaknya yang sedang asyik bermain bola. Setelah memanggil kakaknya, Cantika segera duduk di meja makan untuk menyantap ikan hasil tangkapannya bersama ayah. Setelah ikannya selesai dimasak, Nenek Cantika membawa ikannya ke meja makan, karena penyuka Ikan Bolu, dengan cepat Cantika mengambil semua potongan ikan yang sangat besar, dia tidak menyisakan satu pun potongan ikan yang besar untuk ibunya, saat ibunya duduk, lalu ia mengambil ikan, dia melihat sudah tidak ada potongan ikan yang besar, ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menertawakan Cantika.
Selesai makan, Cantika duduk – duduk di teras rumah sambil mendengarkan lagunya di iPod. Saat mendengarkan lagu, dia melihat seseorang anak perempuan berjalan ke rumah dengan menggunakan baju polos dan celana pendek. Saat anak perempuan itu menyimpan sandalnya diujung tembok.
“Nama kamu siapa?” tanya perempuan itu.
“Namaku Dwi Cantika, biasa dipanggil Cantika. Aku berasal dari Jakarta, Terus kalau namamu siapa?”
“Nama saya Qonita Azizah biasa dipanggil Qonita, salam kenal!” Qonita menjawab.
Cantika melanjutkan mendengarkan lagu. Qonita yang sedang menunggu dan dikacangi oleh Cantika langsung duduk dan menghafal sebuah rumus, Cantika heran dan bertanya,
”Kamu kelas 6 yah? Kok kamu hafal rumus itu, kecuali kamu memang anak kelas 6.”
Qonita pun menjawab sambil tersenyum,”Iya, aku kelas 6, namun aku tidak bersekolah lagi.” Cantika kaget dan bertanya,”Kenapa kamu tidak bersekolah lagi? Emang kamu sekolah dimana?” Saat Qonita mau menjawab nenek keluar dan berkata,
”Eh cucuku udah mulai akrab dengan Qonita. Qonita maaf yah, hari ini tidak ada kue karena sibuk mengatur rumah, nenek kedatangan keluarga kesayangan. Qonita besok kamu ajak Cantika yah kelilingi Soroako, kalau belum selesai turnya besok, kamu bisa lantjutkan besoknya, Cantika selalu siap kok pergi jalan – jalan, dia kan anak fashionita!”
“Apa?! Aku jalan – jalan bersamanya?! Aku kan belum akrab dengannya! Lagipula lebih enak sama ayah karena naik mobil daripada sama si dia,eee siapa lagi namamu? O iya, Qonita, Pokoknya Intinya aku tidak mau!” jawab Cantika dengan wajah yang kesal.
“Baik, Nek. Ayo Cantika. Kujamin setelah ku bawa kau jalan-jalan, kamu pasti suka dengan desa ini. Ayo!” jawab Qonita sambil menarik tangan Cantika.
Cantika tak dapat melawan tarikan tangan Qonita, sehingga ia mengikuti Qonita sambil membawa iPodnya. Sebelumnya Qonita sudah mendapatkan izin dari nenek untuk membawa Cantika menaiki raft. Cantika yang heran melihat Qonita memanggilnya untuk menaiki raft tersebut hanya mengikutinya. Saat raft tersebut jalan, ia terkejut dan kagum dengan keindahan yang memanjakan mata. Untung saat itu Cantika membawa gopronya, sehingga ia dapat mengabadikan momen di situ. Saat di raft mereka mulai mengenal satu sama lain dan mereka mulai akrab. Ternyata kata ayah Cantika benar bahwa anak-anak di desa itu baik-baik serta ramah. Cantika senang mempunyai teman baru. Selesai keliling melihat pemandangan Danau Matano serta gunung-gunung ya bersusun, ia diajak Qonita untuk melewati sekolah yang sangat didambakan semua anak di desa sini, yaitu sekolah milik perusahaan yang mempunyai fasilitas sangat lengkap dan berlantai dua. Cantika kagum melihat sekolah yang keren berada di desa, namun sayang mereka tak dapat masuk.
            Sore hari sambil ditemani Qonita, Cantika jogging bersamanya, selfie bersama, dan lain-lain. Ketika matahari sudah mau terbenam, Qonita mengajak Cantika untuk berkunjung ke rumahnya, dan ternyata rumah Qonita adalah rumah pohon. Rumah pohon Qonita tidak terlalu besar, namun kita merasa nyaman jika berada di sana. Qonita mulai bercerita ia tak bersekolah karena ia keluar dari sekolah yang telah diperlihatkan Cantika tadi sebab orang tua Qonita meninggal dan siswa tidak diperbolehkan sekolah jika ia tidak ada orang tua yang bekerja lagi di perusahaan. Cantika yang sedih mendengarnya, ia segera memeluknya dan memberikan ia motivasi, Qonita senang mendapatkan teman baru yang sangat perhatian. Cantika juga sangat berterima kasih kepada Qonita karena ia sudah ditemani untuk berkeliling dan melihat keindahan di Soroako, membuat Cantika mulai senang di desa, dan seakan tidak ingin kembali ke kota. Ternyata di desa itu mengasyikkan yah!


Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku

Pejuang di Tapal Batas