Kisahku

Kisahku
Aqila Dwi Salsabila

            Aku adalah seorang perempuan. Aku dijodohkan oleh orang tuaku dengan seorang laki-laki yang sederhana namun pendiam, gagah, dan aku tetap menyukainya. Kami hidup bahagia dan saling melengkapi, aku rasa dirikulah wanita yang paling beruntung di dunia. Kami dikarunia 5 anak, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Namun ketika aku melahirkan anakku yang ke-5 , setelah berberapa tahun kemudian aku harus bertengkar dengan suamiku, untuk pertama kalinya! Aku tidak menyangka kami akan berkelahi sebesar itu, sampai-sampai aku harus menitipkan anak-anakku kepada rumah adik agar mereka tidak khawatir dan tidak menangis melihat ini. Kami akhirnya pisah ranjang hingga pada akhirnya, saat ulang tahun pernikahan, kami harus cerai. Tidak ada lagi jalan keluar dari masalah ini. Hanya masalah katanya, tapi menurutku ini masalah besar! Ya, ia telah selingkuh dengan wanita yang lebih muda serta orangnya mampu. Memang suamiku ini masih terlihat gagah meskipun ia sudah tua, namun semua cewek masih banyak yang menyukainya, sedang aku hanya seorang wanita yang tidak tinggi, pendiam, sabar, dan memiliki rupa yang tidak terlalu cantik.
            Aku membawa anak-anakku kembali ke rumah. Mereka heran hanya aku yang menjemput mereka dan tanpa ayah. Anak-anakku bernama : Syla, Carlo, Adhia, Tiara, dan Ikram.
“Ayah mana, Bu?” tanya Syla.
Mendengar perkataa Syla, aku hanya dapat mengatakan,
“Syla, Carlo, Adhia, Tiara, Ikram, sekarang kita tinggal ber-enam. Ayah sudah pergi dan meninggalkan kita semua. Kalian tidak usah mencari mereka lagi ya. Ingat pesan ibu, oke?”
“Ayah emangnya kemana, Bu?” tanya Carlo dengan wajah kebingungan.
“Pokoknya ayah sudah pergi dan tidak kembali lagi ke kita. Suatu saat nanti kalian pasti mengerti kok.” jawabku.
Mereka diam dan tak bicara apa-apa, aku rasa aku ingin menangis melihat anak-anakku ditinggal ayahnya, namun aku harus kuat agar anak-anakku juga kuat.
            Tahun demi tahun berlalu, anak-anakku semakin besar. Anakku yang pertama hingga ketiga pergi ke kota untuk sekolah dan tinggal dengan omnya, sedang anakku yang keempat dan kelima tetap tinggal bersamaku. Mereka semakin beranjak besar dan membantuku. Mereka menjual kue berkeliling, berkebun, bersawah, dan lain-lain. Mereka tetap berusaha mencari untuk membeli seragam baru dan buku karena ayahnya tidak pernah memberikan uang. Aku yang menjadi guru saat itu dan gajinya yang masih pas-pasan hanya dapat cukup untuk membayar SPP anak-anakku yang berada di kota, sedang anak-anakku yang tinggal berada di desa hanya bisa membeli baju seragam dan SPP mereka dibayar dengan hasil sawah (beras). Disaat hujan datang dan petir bermunculan, kami bertiga berpelukan di dalam kamarku sambil membaca dzikir. Rumah kami yang hanya terbuat dari kayu dapat tergoyah saat petir, namun rumah ini masih dapat melindungi kami, walaupun hanya sementara saja.
            “Ayah!” teriak Ikram.
“Ah, Ikram! Kamu sudah besar ya!” ujar mantan suamiku yang menghentikan sepedanya.
Aku hanya melihat tingkah Ikram yang masih merindukan ayahnya, dan akupun tidak melarang ia pergi ke ayahnya.
“Ayah? Ikram rindu ayah, ayo pulang ke rumah!” kata Ikram sambil tersenyum.
“Ayah sudah tidak bisa. Ayah sudah punya rumah baru, Nak.”
“Apakah aku bisa tinggal disana bersama ibu?”
“Jika kamu yang ingin tinggal itu tidak masalah, namun jika ingin bersama ibumu, tidak bisa, Nak.”
“Kenapa ayah? Terus yah, aku minta uang ayah! Aku ingin membeli baju lebaran!”
“Karena memang tidak bisa! Dan ayah tidak punya uang, minta saja sana sama ibumu!”
Aku melihat mantan suamiku mengayuh sepedanya dengan cepat dan meninggalkan Ikram, Ikram menangis dan duduk di pinggir jalan, aku segera menggendongnya dan menenangkannya, aku mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja.
            Tiara sudah kelas 6 SD, dan saatnya ia lanjut ke SMP. Aku mengirimnya juga ke kota untuk melanjutkan sekolahnya. Ia sempat menangis dan memelukku, aku menyapu kepalanya dan menciumnya. Ia pergi bersama adik perempuanku. Seketika air mataku menetes saat melihat mobil yang ia naiki semakin jauh. Aku pulang menggandeng Ikram yang sudah kelas 3 SD. Kami akhirnya hanya tinggal berdua di rumah yang kecil. Kami menghabiskan waktu di sawah, menangkap bebek, memanen padi, pisang, dan lain-lain. Kini Ikram sudah kelas 2 SMP dan ia tidak ingin melanjutkan sekolahnya di kota karena ia tidak ingin meninggalkanku. Mendengar perkataannya waktu itu membuatku hanya mengganguk dan memeluknya. Ia sempat cemburu dengan teman-temannya karena mereka pergi ke sekolah menggunakan sepeda dan sepatu yang keren, sedang ia tidak punya sepeda dan sepatu, ia hanya memakai sandal. Aku mulai berusaha keras ke pasar untuk mencari sepatu yang pas dengannya, dan aku mendapatkannya! Meski mahal aku tetap membelinya demi menyenangkan dia. Saat pulang ke rumah aku memberikan kepadanya, dan Ikram menangis. Ia memelukku lalu memarahiku karena aku membelikannya. Aku tersenyum dan menyapu kepalanya. Aku mengajaknya untuk ke rumah Pak Kasim, yaitu tetanggaku.
“Assalamualaikum, Pak Kasim?” tanyaku.
“Waalaikumsalam, eh masuk-masuk.” ujarnya.
“Makasih, Pak. Saya hanya ingin bertanya. Apakah bapak punya sepeda bekas namun masih bisa dipakai? Aku ingin memberikannya kepada Ikram, hari ini dia sedang ulang tahun.”
“Iya yah! Aku ulang tahun, Bu! Pantasan ibu membelikanku sepatu, sekarang mencarikanku sepeda! Makasih ibu!” sorak Ikram.
“Dia baru ingat! Haha! Sepertinya ada, tunggu dulu ya!” ujar Pak Kasim.
Setelah Pak Kasim mencari, Alhamdulillah, Pak Kasim mempunyai sepeda bekas.
“Saya masih mempunyai sepeda, dan saya sudah tidak pakai lagi. Mungkin yang rusak cuma pegangan sepedanya saja.” ujar Pak Kasim.
“Tak apa-apa kok, Pak. Ikram bisa memperbaikinya.” kataku.
“Betul kok, Om!” sorak Ikram dengan gembira.
“Baiklah! Silahkan ambil sepedanya di belakang rumahku.”
Akhirnya kami mengambil sepeda itu dan membawanya pulang. Terima kasih Pak Kasim.
            Hari baru datang lagi, dan aku melihat Ikram yang sudah bangun dari tadi membuat pegangan sepedanya. Aku tersenyum melihat semangat anakku. Setelah ia selesai membuat pegangan dan memasangnya, ia mulai mencoba sepedanya, dan ternyata ia menyukainya. Kami mulai pergi ke sawah menggunakan sepeda, ia memboncengku. Terima kasih anakku. Kau membuatku tersenyum lebar lagi.
            Ternyata hari ini datang juga, dimana Ikram harus kuliah dan pergi meninggalkanku. Aku hanya dapat memeluknya dan tak dapat ikut dengannya karena harus tetap menjaga sawah dan kebunku. Akhirnya Ikram pergi meninggalkanku sendiri. Ia tinggal di rumah kakaknya yang pertama, yaitu Syla. Kini Syla, Carlo sudah lulus dari kuliah dan mereka jadi dokter. Mereka juga sudah nikah dan tak dapat meninggalkan kota. Adhia dan Tiara sedang kuliah dan mereka masuk fakultas teknik. Aku senang semua anak-anakku dapat melanjutkan sekolahnya sampai perguruan tinggi. Aku mensyukuri itu. Aku harus lebih giat untuk bekerja karena aku sudah sangat merepotkan Syla dan Carlo, aku harus mengganti uangnya. Syla membayarkan uang kuliah Adhia sedang Carlo membayar uang kuliah Tiara. Karena aku tak ingin merepotkan mereka lagi, sehingga aku ingin membayarkan uang kuliah Ikram sendiri, dengan semampuku. Ikram lulus di fakultas teknik.
            3 tahun pun lewat, dan aku menghadapinya sendirian di desa. Akhirnya Ikram sudah lulus dari kuliahnya dan ia mendapatkan kerja di tempat yang jauh serta sudah menikah. Aku hanya bisa senang melihat semua anak-anakkku sukses menjadi insyinur hingga ada yang menjadi dokter. Setelah mengganti uang-uang anakku, aku mulai bekerja normal lagi. Entah kenapa saat aku membajak sawah aku mulai lupa jalan pulang, dan ingatan di kepalaku mulai hilang, Mungkin karena aku stress memikirkan semua masalahku, akhirnya aku tidur. Keesokan harinya, ketika aku bangun aku melupakan semuanya dan aku hanya terdiam di tempat tidur. Anakku yang ketiga, yaitu Adhia ketika pulang ke rumah melihatku masih duduk dan aku semakin kurus karena tidak mau bergerak, ia segera menghubungi semua saudaranya. Semua anakku datang menjengukku. Aku melihat mereka, namun aku tak mengingat mereka. Mereka mencoba mengingatkanku dirinya, namun aku merasakan kepalaku tak dapat mengingatnya. Aku hanya menghafal rumus matematika, karena dulu aku guru matematika.
            Semakin lama, kondisiku semakin memburuk. Aku menjadi semakin kurus dan tak berdaya, semua anak-anakku menangis melihatku, aku yang tidak tau apa-apa dan mengira mereka bukan anakku, aku hanya mengatakan,
“Hey kalian? Jika kalian mengetahui anakku, beritahukan dia bahwa aku merindukannya dan aku bangga terhadap mereka. Mereka semua sudah jadi anak yang sukses dan aku tidak mau menggangu kehidupan mereka lagi. Aku sangat menyayangi mereka. Aku harap mereka bisa datang menemuiku lagi.” Kataku dengan polos.
Aku melihat seketika semua orang itu menangis (anak-anakku). Ketika aku selesai mengucapkan kata-kata itu dan tersenyum, aku menutup mataku untuk selama-lamanya.

Selesai

Untuk : Nenekku yang tercinta dan yang sudah berusaha keras menghadapi kehidupan.

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang di Tapal Batas