Salah Paham

Salah Paham
Aqila Dwi Salsabila

Jumat sore, Bulan Desember, hari terakhir sekolah, sambil berjalan-jalan bersama di trotoar mereka asyik bercanda dan tertawa. Ya, mereka bernama Tari dan Tani. Mereka bersahabat sejak masih TK. Tidak ada cara apapun yang bisa melepaskan tali persahabatan mereka. Karena capek jalan, Tari pun menyuruh Tani untuk duduk sebentar di trotoar untuk istirahat. Melihat Tari yang kecapean dan air minumnya yang habis, Tani pun memberikan sedikit air minumnya kepada Tari, Tari pun berkata,
“Thanks Tan, kamu memang solmetku yang paling baeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek deh!” ,
lalu Tani pun tersenyum. Kemudian mereka melanjutkan jalan mereka sampai ke rumah Tari. Tari pun menyuruh Tani untuk singgah sebentar hanya sekedar mampir saja sekalian menemaninya, lalu Tani pun setuju.
Tari itu bisa dikatakan anak orang kaya, karena dilihat saja dari rumahnya yang megah kayak istana, mobilnya ada 10, motornya ada 11, sepedanya ada 15, punya kolam yang sangat luas, tamannya yang indah dan luas, dan hampir seluruh perabotan rumahnya terbuat dari mutiara, berlian, dan emas, WOW! Namun, Tari tidak merasakan namanya keluarga, karena dia hanya anak tunggal, lalu papanya kerja di perusahaan minyak yang minyaknya sudah di eksport ke mana-mana, lalu mamanya sebagai artis dan dokter onkologi kanker. Sama seperti halnya Tani, Tani juga bisa dikatakan anak orang kaya, karena rumahnya juga yang megah, mobilnya ada 5, motornya ada 5, sepedanya ada 10, ada kolamnya, dan punya taman yang berhektar-hektar. Papinya ternyata bule, yaitu CEO apple. Inc, lalu maminya sebagai CEO di perusahaan Bank Indonesia. Tani adalah anak ke 4 dari 4 bersaudara, kakak perempuan pertamanya sekarang sudah punya anak 1 dan tinggal di Amerika, kakak laki-laki keduanya sekarang kerja di perusahaan apple.inc (perusahaan ayahnya), dan kakak laki-laki ketiganya sekarang kuliah di Singapura  jurusan kedokteran,jadi Tani pun juga biasa merasa kesepian dirumahnya. Jadi mereka sebetulnya bisa dikatakan sahabat senasib dan sehati.  Setelah sampai di rumah Tari, saat Tari membuka pintu rumah dengan penuh berharap agar ada orang dirumah, ternyata tidak ada, hanya asisten rumah tangganya ada 6 dan sopirnya. Lalu Tari menyuruh asistennya untuk membuat teh, ambilkan biskuit, dan menyuruh sopir dan asisten lain keluar dari rumah. Lalu Tari mengajak Tani ke kamarnya. Kamar Tari sangatlah indah, warna pink campur emas dan putih, lalu terlihat sangat megah. Tari mempersilahkan Tani untuk duduk di sofa bantalnya sambil menunggu pesanan Tari tadi.
Sambil menonton, Tari tiba-tiba mengingat sesuatu, lalu segera mengambilnya di lemari, lalu memperlihatkannya ke Tani. Barang itu ter-packing dengan rapi dan indah di sebuah box berwarna emas. Lalu Tari mengatakan,
“Tani aku ingin memperlihatkan mu ini!”
 “Ini apa, Tar?” tanya Tani,
“Ini adalah box kesayanganku! Aku bukaiin yah.” Kata Tari,
“Silahkan.” Jawab Tani.
Setelah box itu dibuka, ternyata isinya adalah buku photos collection, ternyata itu adalah kumpulan foto kenangan mereka berdua saat masih kecil hingga sekarang. Lalu Tani pun bertanya,
“Kamu dapat foto ini dari mana?! Aku kira ini kan hilang saat staditur naik kelas 1 SMP?!” “Hahahaha, ternyata buku ini ada di res rahasia di koperku, mungkin kita menyimpannya saat mau penerbangan ke Singapura saat itu.” Jawab Tari,
 “Oh iya, aku ingat!” Kata Tani.
Mereka pun membuka buku itu dari awal sampai akhir, pertama mereka berfoto di depan tugu Tknya dulu, lalu pengambilan rapor TK, lalu saat beli permen sama-sama, lalu saat mereka mendaftarkan masuk SD, lalu saat mereka masuk kelas baru di SD, lalu saat pembelajaran di taman sekolah, lalu saat di trotoar waktu jalan pagi, lalu saat staditur ke sekolah terbersih saat kelas 3 SD, lalu saat penaikan kelas 4 SD, lalu saat jalan-jalan ke pantai pasir putih, lalu saat beli es krim saat tahun baru, saat ke pasar bersama beli ikan untuk bakar ikan di sekolah kelas 6 SD, lalu lomba bernyanyi duet saat penaikan kelas 1 SMP, lalu staditur saat penaikan 1 SMP. Tani pun kaget melihat foto dan bertanya,
“Aku kira buku ini hilang, lalu kamu baru mendapatkannya, tapi kenapa foto kenaikan kelas 6 SD dan kenaikan kelas 1 SMP sudah ada?”
“Oh, aku baru print foto itu kemarin lalu baru kupasang malam kemarin.”Jawab Tari,
“Ooh, begitu yah.”kata Tani.
Kemudian datanglah asisten rumah tangga Tari membawakan biskuit, teh, dan telepon rumah, lalu Tari bertanya,
“Loh, kok telepon rumah di bawa ke sini sih? Aku kan tadi gak minta?”
“Iya, memang non tadi tidak minta, tapi mamanya non Tani menelpon tadi, katanya mau bicara sama non Tani dan akan menelpon kembali beberapa menit lagi, jadi saya bawakan kesini.” Jawab panjang lebar asisten rumah tangga Tari, lalu Tani pun menjawab,
”Oh, ya sudah taruh disini saja, makasih ya mbi.”
“Sama-sama non Tani, misi non Tari.” jawab asisten rumah tangga Tari.
Tani terlihat cemas, takut, dan khawatir mengapa mamanya baru kali ini menelpon, melihat Tani yang cemas, Tari pun ikut cemas. Beberapa menit kemudian, sambil Tani melihat foto mereka berdua, telepon rumah itu berbunyi dan dengan cepat Tani mengangkat telepon itu lalu berkata halo, setelah mendengar suara di telepon itu lalu mematikan telepon, Tani terlihat kaget, dan tiba-tiba minta tolong kepada Tari untuk ditemani pulang, Tari yang melihat Tani cemas, mengangguk dan menemani Tani pulang sambil bawa buku kumpulan foto tadi yang belum sempat dilihat Tani, kebetulan ternyata rumah Tari dan rumah Tani berdekatan.
Setelah sampai dirumah Tani, Tari pun memberi buku kumpulan foto dan menyuruh Tani untuk memegang buku itu sementara karena Tani belum melihat semua, lalu Tani tersenyum dan mengatakan,
“Terima kasih, aku akan menjaga buku ini baik-baik.” Saat Tani membuka pintu rumahnya, Tari menarik tangan Tani dan bertanya,
“Kenapa tadi kamu terlihat cemas dan kaget habis tutup telepon?”
“Oh, gini tadi itu aku kaget, ternyata hari ini ultahnya papiku, aku lupa! Terus mamiku pulang cepat, jadi aku langsung mau temui mami terus urus acara ultah, sebentar jam 6 sore papiku dah ada sama kakakku yang kedua, datang yah jam 7 malam kesini!” Jawab panjang lebar Tani,
“Ok deh, jaga baik-baik yah bukunya!” kata Tari,
 “Iya!” jawab Tani. Lalu Tari kembali kerumah dengan lesu, ia merasa sepi lagi setelah Tani tidak ada, ia harus menunggu sampai jam 9 malam, jam pulang orang tuanya. Setelah sampai kembali di rumah, Tari segera mandi sore lalu pergi ke supermarket beli 1 paket parzel untuk papinya Tani. Lalu Tari kembali kerumahnya lalu mengambil cereal kesukaannya lalu memakan cerealnya sambil nonton TV di kamarnya.
Kring… kring…
HP Tari berbunyi, dengan cepat Tari mengambil Hpnya lalu mengangkat teleponnya. Ternyata yang menelpon adalah mamanya Tari. Ternyata mama dan papanya Tari akan terlambat pulang ke rumah sekitar jam 12 malam karena mamanya akan membawakan sebuah acara ulang tahununtuk  suatuprogram TV sedangkan papanya mengadakan meeting tiba-tiba karena rekan kerjanya lagi tidak ada dan tamu yang diundang akan pulang besok siang. Setelah menutup telepon, Tari lari dan menutup wajahnya yang mengeluarkan air mata,
“Kenapa kalian tidak bisa meluangkan waktu sedikit saja untukku, kalian pulang terlambat lagi, dan itu membuatku tambah sedih dan kesepian!”
setelah menangis berjam-jam sampai jam 07.30 malam, Tari kaget dan mengingat acara ultah papinya Tani, ia segera mengganti bajunya dan segera ke rumah Tani membawa parzel untuk papinya Tani.
Setelah sampai dirumah Tani, Tani memeluk Tari dan langsung kaget dan heran melihat mata Tari yang bengkak karena habis menangis, lalu Tani pun mengajak Tari masuk dan bertemu papi, mami, serta kakak keduanya. Papi Tani pun menyuruh Tani dan Tari berdiri di depan kue lalu papi Tani ingin mengambil foto mereka berdua sebagai kenang-kenangan. Setelah difoto, Tari pun punya ide dan menyuruh Tani untuk print foto yang diambil tadi papinya lalu tempel di buku kumpulan foto, Tani pun setuju dan akan mengembalikan buku itu ke Tari setelah liburan dan foto itu dijamin sudah ada didalam buku itu. Jam 9 malam Tari baru pulang dari rumah Tani sambil ditemani pulang sama Tani dengan kakaknya Tani yang kedua. Setelah sampai di rumah, Tari pun ucapkan terima kasih pada Tani dan kakaknya dan mengingatkan Tani untuk membawa buku itu setelah liburan. Akhirnya, setelah Tani pulang bersama kakaknya, Tari masuk kedalam rumah dan meminum 1 gelas susu putih sambil makan roti isi selai strawberry. Lalu, Tari mengganti bajunya menjadi baju tidur.
Tari menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuatkannya teh dan popcorn untuk menemaninya nonton sambil menunggu mama dan papanya pulang. Setelah teh dan popcornnya ada, Tari menonton film di fox movies sampai jam 12 malam, namun saat mama dan papanya pulang, Tari ternyata ketiduran di sofa di kamarnya karena capek menunggu, begadang. Akhirnya, papa dan mamanya membawa Tari ke tempat tidurnya lalu menyelimutkannya.
“We are so sorry honey.” Itulah yang dikatakan mama dan papa Tari. Sesudah itu, mereka pun menutup kamar Tari dan memanggil asisten rumah tangganya untuk membersihkan sisa teh dan popcorn yang diminum dan dimakan Tari tadi.
Keesokan harinya, pada Senin pagi, Tani mengantar papi dan kakaknya ke bandara bersama maminya karena takut jika siang diantar mungkin macet. Sesudah sampai di bandara, papinya Tani pun berkata,
“I will be waiting you in America with your sister and your brothers, bye Tani, bye my lovely, faster yah do your work!”
“Yes darling, bye-bye” Jawab maminya Tani, Tani pun ikut menjawab,
“Wait us yah ! I love you paps! Bye-bye!”
Setelah berpisah dari papi dan kakak, Tani diantar sama sopirnya kembali ke rumah lalu mengantar maminya ke tempat kerja. Sampai dikamar, Tani mengambil buku koleksi foto lalu menempelkan hasil foto kemarin. Tani sangat suka buku itu, sampai-sampai Tani menempelkan stiker kesukaannya dibuku itu. Yah, lain halnya yang dibuat Tari, Tari sedang packing barang-barangnya karena tahun baru kali ini akan dilakukan di Eropa, pertama mereka akan ke Jerman, lalu ke Spanyol, lalu Portugal, Italia, Rusia, dan merayakan tahun baru di Paris.
Hari ini mama dan papa Tari sedang libur kerja karena sibuk packing barang, Tari pun berpikir sesuatu,
“Mungkin kesempatan ini yang bisa kupakai untuk bersama orang tua! Horray!”
Senang sudah terlihat di wajah Tari, Saking semangatnya packing barang, sampai-sampai ia menghiraukan teleponnya, dan yang menelpon ternyata Tani. Tani yang menelpon berkali-kali hanya tetap berpikir positif, dipikarannya itu mungkin Tari lagi pack barang, dia kan mau ke Eropa lusa, hmm. Karena capek menelpon, Tani pun berhenti menelpon dan pack barangnya juga, karena jika pekerjaan maminya selesai, ia akan pergi ke Amerika. Sambil pack barang, ia selalu melihat teleponnya adakah Tari menelpon atau tidak. Setelah mereka berdua pack barang masing-masing dirumah mereka masing-masing, mereka minta izin kepada orang tuanya untuk keluar sebentar beli coklat. Saat di supermarket, Tari dan Tani bertemu, lalu Tani melihat wajah Tari yang sangat bahagia, lalu Tari pun berkata,
“Tani! Lusa, aku dan ortuku akan pergi ke Eropa, tenang! Aku akan mengingatmu selalu dan akan membelikamu oleh-oleh.”
“Thanks, aku akan belikan kamu juga oleh-oleh dari Amerika kok.” Jawab Tani.
“Horray! Oh iya, kapan kamu mau ke Amerika?” Tanya Tari ,
“Oh, aku belum tahu, kalau pekerjaan mamiku selesai, baru aku bisa berangkat.” Jawab Tani. Akhirnya, setelah berbincang-bincang di supermarket dan membayar belanjaan mereka, mereka pergi ke taman kecil lalu makan coklat bersama, lalu mereka sempat foto berdua di taman itu, yah mereka sangat so sweet jadi sahabat yah!
Hari Rabu, yah hari ini saatnya Tari dengan keluarganya pergi ke Eropa. Saat Tari mau naik ke mobil Tani datang, lalu Tari dan Tani pelukan. Tani memberikan sesuatu ke Tari. Mau tahu apa? Nanti akan di beritahu kok! Setelah diberi, Tari segera naik ke mobil dan melambaikan tangan ke Tani, Tani pun melambaikan tangan juga. Setelah melihat Tari pergi, Tani segera kembali ke rumah. Saat sampai dirumah, Tani merasa lapar, lalu ia ke ruang dapur. Saat mengambil nasi goreng, tiba-tiba telepon Tani berbunyi. Ternyata, yang menelpon adalah maminya, bahwa ia harus siap-siap karena perkerjaan maminya sudah selesai dan mereka akan berangkat ke Amerika malam nanti. Sesudah menutup telepon, Tani segera siapkan barang-barang yang akan dibawa, lalu mandi dan makan.
Setelah maminya ada dirumah, mereka berangkat ke bandara. Sesampainya dibandara, mereka segera check in, setelah check in lah Tani menelpon Tari. Tari sudah sampai di tujuan pertamanya, yaitu Jerman. Saat Tani menelpon Tari, Tari mengangkat dan memberitahu ke Tani bahwa ia sudah sampai di Jerman, begitu pula Tani, Tani memberitahukan Tari bahwa ia akan berangkat ke Amerika malam ini. Yah setelah menelpon lama, akhirnya Tani menutup teleponnya lalu masuk ke dalam pesawat. Saat itulah mungkin terakhir kali mereka bicara, karena asyiknya berlibur, sampai-sampai mereka lupa untuk menelpon apalagi SMS, tidak pernah mereka lakukan itu.
Hari Senin, Bulan Januari, merekasudah sampai di Indonesia kembali, lalu mereka bertemu di sekolah dan menukarkan oleh-oleh mereka dan foto-foto mereka. Yah, mereka melakukan aktivitas di sekolah seperti biasa, sampai jam 4 sore. Sesudah sampai di rumah, Tari mengambil hasil foto Tani di Amerika dan hasil fotonya di Eropa, ia ingin menempelkannya di buku koleksi foto. Saat mengambil boxnya, buku itu tidak ada, Tari heran, kemudian ia tiba-tiba teringat bahwa buku itu masih ada di Tani, namun karena hujan jadi Tari tidak bisa ke rumah Tani.
Keesokan harinya disekolah, Tari segera menuju ke meja Tani dan mengatakan,
“Tan, mana buku koleksi foto kita? Aku mau nempel foto liburan kita nih.”
“Yah, aku kira kamu kan yang pegang? Kemarin kan sebelum kamu berangkat ke Eropa aku kasih buku itu!” Jawab Tani,
“Kamu kasih?! Kapan?! Jangan bohong! Jelas-jelas buku itu tidak ada dirumah kok! Masih kamu yang pegang!” Kata Tari dengan nada kasar,
“Jangan nuduh sembarang, aku sudah kasih! Kok kamu begitu sih! KAMU BUKAN LAGI SAHABATKU! SAHABAT APA KAMU?! NUDUH-NUDUH AKU SEMBARANGAN!” Kata Tani dengan marah dan kesal.
Lalu tani pun pergi dari kelas dan lari ke toilet, Tari yang melihat sahabatnya baru saja memarahinya, ia marah dituduh, lalu ia merobek semua foto-foto liburan Tani, lalu menangis di mejanya.
Sampai dirumah, tepatnya dikamar, Tari langsung mencari-cari buku itu. Setelah mencari dimana-mana Tari pun sangat jengkel terhadap Tani yang sudah menuduhnya. Tani pun sudah mencari buku itu dirumahnya, namun tidak ada. Tani berpikir bahwa ia sudah memberikannya ke Tari. Tari yang sangat kesal sambil mengeluarkan alat kosmetiknya dari tasnya tiba-tiba buku itu keluar dari tas itu. Tari merasa bersalah sudah menuduh sembarang kepada Tani. Sejak itu terjadi, Tari menangis tersedu-sedu.
Esok harinya, saat disekolah, Tari menuju ke meja Tani dan memberikan kue kesukaannya, notes kesukaannya, stiker kesukaannya, dan tas kesukaannya. Tani kaget melihat Tari dan mengatakan,
“Ngapain kau kesini?! Lalu memberikan ini semua?! Kesukaanku lagi?!”
Tari pun menjawab, “Anu Tan, aku minta maaf, ternyata bu………k……u itu ada didalam tas kosmetikku, maaf yah.”
“Tuh kan?! Aku sudah beri ke kau! Hmmm, Okey, aku maafin kok solmet cyank ku. Jaga baik-baik yah buku ini, jangan suka lupa”
“Iya cyank!” Jawab Tari.
Untung Tani sabar dan baik. Akhirnya tali persahabatan mereka pun terikat kembali.


Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku

Pejuang di Tapal Batas