Kehidupan di Tempatku
Kehidupan di Tempatku
Aqila
Dwi Salsabila
Pemandangan
terbentang luas di daerahku. Pemandangan ini membuatku menjadi terpukau dan
takjub. Hari ini aku bersama teman-temanku lomba lari menuju bukit yang
tertinggi di desaku, kebetulan daerahku di daerah perbukitan. Kami membawa kayu
dan menyeretnya untuk membuat garis agar kami dapat pulang. Kami ingin melihat
daerah kami dari ketinggian. Ketika kami sampai di puncak bukit, lagi-lagi
pemandangan daerah membuat kami takjub dan terpukau. Karena di daerahku belum
di masuki teknologi (handphone, kamera, dan lain-lain) sehingga kami belum
dapat mengabadikan momen ini, tapi kami tetap selalu mengingat momen ini tanpa
harus ada foto atau video. Kami pun pulang namun menaiki daun pisang yang kami
bawa tadi dan menaikinya. Ya, seperti seluncur saja, hehehe… setelah main seluncuran, kami pergi ke kebun
untuk mengambil buah-buahan yang sudah matang/masak. Ketika semua
buah-buahannya terkumpul, aku langsung mengambil karpetku lalu membentangnya di
tanah. Kami semua langsung duduk di atas karpet itu lalu memakan buah yang
dipetik tadi. Sungguh lezat! Kami seperti piknik…namanya anak-anak… kemudian
kami pulang ke rumah masing-masing untuk membantu ibu memasak. Di daerahku
masih menggunakan kompor yang sangat tradisional. Itulah tugas anak perempuan
di daerahku, membantu ibunya membersihkan rumah, memasak, membersihkan kebun,
lalu dapat pergi bermain. Sedang tugas anak laki-laki yaitu membantu ayahnya
pergi bekerja, menjaga ladang dan kebun, menanam sayur dan buah di kebun, menjual hasil kebunnya di pasar, menjaga
hewan-hewannya, lalu ia juga bisa bermain.
“Aku sudah selesai, Bu!” kataku dengan penuh keceriaan.
“Sudah? Baiklah, kamu dapat bermain dengan
teman-temanmu.” ujar ibuku sambil tersenyum.
Aku pun berlari menuju ke
rumah Layla, Natasha, Katrin, dan Mayla. Setelah menunggu mereka selesai akan
pekerjaannya, kami pun pergi ke lapangan luas untuk main cukke’ (kayu yang
dipukul). Yah, hari ini hari keberuntunganku karena aku yang menang! Yay!
Permainan kami pun cukup untuk hari ini karena sudah mau magrib.
Di
desaku, ketika sudah mau magrib semua aktivitas harus dihentikan dan secepatnya
harus pulang ke rumah karena konon jika masih ada 1 orang di luar rumah saat
magrib, maka keluarganya akan dapat musibah/kesialan. Aneh ya… sehingga kami
semua harus ada di masjid sebelum magrib. Aku berlari dengan kencang untuk
mengambil mukenah dan lentera lalu pergi masjid. Orang tuaku sudah ada di sana
dari tadi. Ketika aku sampai di masjid bersama teman-teman, kami segera mengambil
wudhu lalu salat magrib. Selesai salat magrib, kami mengaji bersama di asjid sambil menunggu waktu masuknya salat
isya, dan semua di desaku begitu. Ketika masuk waktu salat isya, kami segera
mengambil wudhu lagi dan ikut salat isya berjamaah. Selesai salat isya, aku
bersama orang tuaku pulang ke rumah.dan itu sebabnya aku membawa lentera untuk
menerangi jalan pulang kami, karena di desa ku belum ada listrik dan
penerangan. Sesampainya di rumah, aku bersama kakakku pergi menarik sapi-sapi
agar mendekat ke rumah lalu mengikatnya di bawah rumah. Rumahku rumah panggung,
itu diwajibkan bagi semua warga desa agar tidak rusak saat gempa, dapat menaruh
beras dan hewan-hewannya di bawah rumah agar tidak dimakan hewan buas. Setelah
mengikat sapi, kami segera naik ke rumah dan istirahat.
“Layla!
Layla!” teriakku memanggil Layla untuk bermain.
“Tunggu!”
jawab Layla.
Setelah
menunggu Layla, kami pun pergi memanggil Natasha, Katrin, dan Mayla. Setelah
mereka datang di tempat perkumpulan yang biasa, yaitu di lapangan desa, kami
pun membawa sarung dan menuju jembatan. Di bawah jembatan terdapat sungai yang
tenang dan tidak terlalu dalam. Kami dengan semangat mengikat ujung sarung lalu
membalik sarung kami dan lompat dari jembatan sambil memegang sarung. Ya ,
sarung itu menjadi parasut kami, setelah di air, sarung itu menjadi pelampung
kami. Sarung itu seperti bantal saja saat di air, hehehe… kami naik dari sungai
lalu ke jembatan dan lompat lagi, dan begitu seterusnya.
Senang
juga lompat dari jembatan, sekarang saatnya cari ikan di sungai. Ya, hari ini
pemburuanku tidak terlalu buruk, aku mendapat 2 ikan dan Layla mendapat 3 ikan.
Aku dan Layla menyalakan api sedang Natasha, Katrin, dan Mayla membersihkan
ikan. Selesai ikan di bersihkan, kami pun membakar ikan tersebut di atas api.
Natasha memetik beberapa cabai dan jeruk nipis lalu membuat lomboknya. Meski di
desa ku dingin, kami tetap beraktivitas seperti biasa. Selesai membuat lombok
dan ikannya sudah masak, kam pun makan bersama, itulah aku jarang makan dengan
orang tuaku melainkan bersama teman-temanku, ya orang tuaku juga sibuk bekerja
di ladang dan di sawah. Jika orang di luar desa main masak-masak menggunakan
mainan saja, kita main masak-masak beneran, dan kita tidak pernah dilarang
karena kita sudah terbiasa.
Selesai
masak-masaknya, saatnya pergi ke sawah membantu keluarga! Kami berpisah menuju
sawah masing-masing dan membantu orang tua kita. Aku membersihkan sawahku
bersama ibu, sedang ayah dan kakak membajak sawah lain. Kami sangat bahagia
mengerjakan ini. Selesai semua urusan di sawah selesai, kami pun menggiring
sapi-sapi ke tempat yang luas dengan penuh rerumputan dam memberikan makanan
sapi-sapi. Terkadang sambil menunggu sapi-sapiku kenyang, aku bersama orang
tuaku dan kakak bermain kejar-kejaran. Ketika sapi-sapi ini kenyang, kami
membawanya ke sungai yang dekat dari lapangan tadi dan memandikannya, aku
sangat senang memandikan sapi!
Semua
itu berjalan dengan cepat, kini diriku sudah dewasa dan harus pergi dari sini
untuk sekolah. Aku menangis mengingat semua ceritaku dan kesenanganku saat
kecil. Ibuku memelukku dan menyuruhku tetap bersekolah di luar agar aku juga
dapat berkembang. Akhirnya aku menyetujui kata ibu dan pergi meninggalkan
desaku bersama kakak. Teman-temanku tetap di desa karena orang tua mereka tak dapat
membiayai sekolah mereka. Aku pasti akan merindukan mereka dan semua kenangan
dulu. Tenang, aku akan selalu kembali dan pergi bersama teman-temanku lagi. Aku
akan selalu kembali untuk pergi membajak sawah lagi serta membersihkan sawah
bersama ayah dan ibu. Aku sangat senang akan kenangan ini, sampai memandikan
sapi yang sangat kuingat. Aku menaiki mobil yang akan mengantarku dengan kakak
ke kota. Aku melambaikan tangan kepada orang tuaku dan teman-temanku. Aku
melihat orang tuaku menangis serta teman-temanku. Aku pun menangis melihat
mereka. Aku melihat bukit yang pernah kunaiki, aku melihat jembatan, aku
melihat sawah, dan sapi-sapiku, dan pasti aku akan merindukannya. Aku sayang
desaku. Aku akan kembali ke desaku, pasti!
Selesai
Komentar
Posting Komentar