Anak Dengen (Juara 2 Cipta Cerpen FLS2N 2016 tingkat Provinsi)

Anak Dengen
Aqila Dwi Salsabila
           
“Ibu, lihat! Di sini banyak buah dengen.” Sorak Fahmi.
Fahmi mengambil beberapa buah dengen yang tergeletak di atas tanah. Sepertinya buah itu baru saja jatuh dari pohonnya karena nampak masih segar. Ya, buah ini berbentuk bulat, berwarna kuning, buahnya padat, buahnya berkeping-keping, dan kulit dengennya yang hijau. Ia bersama ibunya mencari buah dengen di Pantai Ide dengan membawa karung beras. Sambil melihat keindahan Pantai Ide yang terbentang luas di pagi hari, mereka mengambil satu per satu buah dengen lalu memasukkannya di karung. Setelah terkumpul banyak, mereka pulang ke rumahnya dipinggir dermaga yang dipadati raft. Di rumahnya, mereka mulai membuat buah dengen menjadi jus dengen. Mereka mulai menuangkan jus dengen ke setiap gelas-gelas plastik, kemudian menutupnya. Kaki pun menginjak pinggir jalan raya, sambil mengangkat kotak besar yang berisi jus dengen. Mereka berkeliling menjual jus tersebut, kadang keringat membasahi wajah dan tubuhnya, namun mereka tetap berjalan. Hari mulai siang, dan mereka singgah di masjid untuk Sholat Dzuhur. Selesai Sholat Dzuhur, mereka melanjutkan jualan lagi. Tidak terasa hari mulai sore dan saatnya untuk kembali ke rumah. Jualan Fahmi jarang sekali laku, dikarenakan orang yang tidak tertarik terhadap jus dengennya, sedang Ibunya Fahmi hanya dapat membuat jus dengen karena tidak ada uang untuk membuat yang lain, dan banyaknya buah dengen yang terbuang di sekitar Pantai Ide. Malam hari pun tiba, dimana saatnya untuk makan malam dan belajar bersama. Fahmi hanya tinggal berdua dengan ibunya, ayahnya telah meninggal sejak umurnya 2 tahun karena ditabrak mobil. Setelah belajar dan membuat PR bersama, mereka Sholat Isya berjamaah lalu mengakhiri hari dengan berbaring di tempat tidur.
            Fajar kembali datang menyinari dunia, Fahmi bangun untuk Sholat Subuh lalu sarapan bersama ibunya. Hari ini, hari Fahmi harus masuk sekolah, yaitu Hari Senin. Setelah selesai bersiap-siap, Fahmi memakai sepasang sepatunya yang kusam dan mulai rusak, lalu berjalan menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Fahmi selalu mendapatkan kejutan di lokernya, yaitu kertas yang berisi ejekan untuknya. Ia selalu diejek oleh teman-temannya karena pekerjaan ibunya yang menjual jus dengen dan mengelilingi desa dengan membawa kotak-kotak besar. Fahmi selalu menyimpan kesedihannya dan rasa malunya didalam hatinya, ia tetap menghiraukannya dan pergi menuju taman sekolah. Fahmi hanya bisa menenangkan dirinya dengan memberi makan ikan. Setiap istirahat, Fahmi selalu dilempari kulit dengen oleh teman-temannya dan diolok-oloki. Fahmi hanya bisa tunduk dan lari bersembunyi agar ia tidak dilempari lagi. Sayangnya, perbuatan teman-temannya tidak pernah kedapatan oleh guru. Fahmi tidak ingin menceritakan masalah ini terhadap ibunya karena ia takut masalah ini akan membuat ibunya sedih. Fahmi keluar dari tempat persembunyiannya lalu segera mengambil tasnya dan masuk ke kelas.
Pembelajaran telah selesai, saatnya untuk pulang dan membantu ibunya. Perjalanan pulang, ia dihadang oleh teman-temannya. Temannya pun berkata,
“Hei anak dengen! Sini uang,kamu! Aku haus banget, nih!”
“Maaf, uangku lagi tidak ada.” jawab Fahmi dengan suara yang pelan sambil menunduk.
“Bohong lagi. Eh, anak dengen yang ibunya penjual jus yang tidak enak itu! Kau mau kubongkar paksa tasmu, hah?!”
“Uang...ku...cu...ma...5000...sa...ja”
“Itu, uangmu ada! Sini!”
Anak itu mengambil uang Fahmi, lalu pergi meninggalkan Fahmi. Fahmi mengambil tasnya dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ibunya yang sedang menyapu di teras rumah.  Fahmi  lari memeluk ibunya lalu menangis di pelukan ibunya.
“Kamu kenapa menangis, Nak?” tanya ibu.
“Aku tidak sanggup sekolah, Bu.”
“Kenapa emangnya?”
“Aku tidak sanggup di-bully, Ibu.”
“Jangan begitu, Nak. Hiraukan saja , Nak.”
“Aku tidak bisa, Ibu! Yang mereka ejekkan tentang pekerjaanmu, Ibu! Bagaimana aku tidak marah?!”
“Sabar, Nak. Mungkin ini adalah cobaan dari-Nya, semua akan dibalas oleh-Nya. Tuhan tidak pernah tidur, Nak.”
“Baiklah, Bu.”
Akhirnya, setelah Fahmi ditenangkan oleh ibunya, ia bersiap-siap untuk Sholat Maghrib. Mereka pergi bersama lalu sholat dan mengaji bersama.
            Tak..tak..
Hentakan kaki Fahmi berjalan menuju Pantai Ide. Kali ini ia mengambil dengen sendirian karena ibunya sedang sakit parah, kini ibunya tidak dapat bangun dari tempat tidur. Fahmi mengambil dengen di pinggiran Pantai Ide. Suara ombak yang membuat hati menjadi tenang membuat Fahmi berhenti mengambil dengen, lalu duduk di pinggiran jembatan yang ada di Pantai Ide. Ia terpikir kembali akan keinginan ibunya yang mau ke Matano, yaitu kampung halamannya, tetapi satu-satunya cara ke sana, yaitu dengan naik raft melewati Danau Matano. Ya, danau mencapai kedalaman hingga 590 m dan danau terdalam di Asia Tenggara. Setelah beristirahat sebentar, ia melanjutkan pulang ke rumah dan membuatnya menjadi jus. Ia mulai berjualan, tetapi kali ini jus dengennya tidak ada yang laku, dan ia butuh uang untuk membayar SPP. Fahmi melihat jusnya yang tidak laku, ia berniat untuk memberikan jusnya kepada tetangga-tetangganya yang kurang mampu seperti biasanya. Di perjalanan pulang, Fahmi didorong oleh teman-teman sekolahnya dan jus dengennya tumpah. Kemudian teman-temannya berkata,
“Lihat! Jusnya jatuh! Kasihan ya.”
“Maumu apa?! Aku tidak pernah menggangumu!”
“Kau memang tidak pernah mengganguku. Masalahnya, kamu enak diganggu, sih. Hahahaha…”
“Kamu adalah temanku yang paling jahat! Tunggu saja, suatu saat Tuhan akan membalas semua!”
Fahmi memungut gelas-gelas plastiknya, lalu membuangnya. Fahmi lari pulang tinggal membawa kotaknya. Ditengah jalan, hujan mulai turun dan membasahi tubuh Fahmi.
            Tik…tik…tik…
 Suara hujan semakin keras dan menandakan Fahmi harus berteduh sejenak di pondok. Fahmi duduk lalu menghela napas, ia melihat papan informasi desa yang terdapat di samping pondok. Ia melihat suatu informasi yang membuat ia penasaran, yaitu lomba karya tulis ilmiah. Fahmi melihat hadiah lomba dan terkejut, ia berpikir dengan hadiah uang Rp25.000.000,-dapat membantu ibunya untuk berobat dan membangun bisnis baru. Fahmi mencatat nomor teleponnya dan cara mendaftarrnya. Hari telah beranjak malam, hujan pun berangsur reda, Fahmi segera bergegas  untuk pulang.
Keesokan harinya di sekolah, Fahmi memberitahu gurunya tentang lomba tersebut. Gurunya setuju dan sedia membantu Fahmi. Fahmi mulai berpikir apa yang akan dia tulis, tiba-tiba Fahmi mengingat buah dengen. Ia mencari cara agar dengen itu dapat menjadi karya tulisnya. Pak guru memberi saran kepada Fahmi agar mencoba buah dengen tersebut menjadi alternatif energi listrik karena buah dengen mempunyai zat yang dapat dijadikan sebagai alternatif energi listrik. Fahmi berpikir kembali bagaimana buah dengen dapat menjadi energi listrik, ia melihat jus dengen yang ada di botol minumnya dan langsung mendapatkan ide dengan membuat buah dengen tersebut menjadi jus lalu memasukkan kabel yang tersambung dengan lampu.
Bel pun berbunyi, tanda bahwa sekolah sudah berakhir. Fahmi mulai mencari kabel-kabel sisa di gudang sekolah, kemudian mencari lampu kecil di gudang sekolah. Sesudah mendapatkan kedua-duanya, Fahmi kembali ke ruang gurunya dan merangkai kabel dengan lampunya. Setelah selesai merangkai, ia membuka botol minumnya yang berisi jus dengen lalu menuangkannya ke dalam gelas-gelas kecil. Ia mencelupkan kabelnya tadi ke dalam gelas-gelas kecil dan ternyata lampunya menyala! Fahmi sangat senang begitu pula gurunya. Akhirnya gurunya Fahmi membantu Fahmi untuk mengikuti lomba tersebut. Fahmi lolos salah satu dari 50 siswa untuk maju ke tingkat nasional. Fahmi bersama gurunya berangkat menuju Jakarta. Fahmi menangis dan terharu pertama kalinya ke Jakarta. Kemudian setelah beristirahat mereka menuju ke tempat lomba.
            “Pak guru, saya gugup, Pak.” ujar Fahmi sambil memegang erat tasnya yang berisi alat dan bahan untuk presentasi.
“Tenang, Nak. Harus optimis, ya!”
“Baik pak guru.”
Setelah menunggu lama dan menyiapkan mental, akhirnya Fahmi dipanggil masuk ke ruangan. Di ruangan, Fahmi mulai mengeluarkan alat dan bahannya, para juri penasaran dengan buah yang dikeluarkan oleh Fahmi. Fahmi mulai berpresentasi dan berjalan lancar, semua juri memberi tepuk tangan yang meriah, Fahmi tersenyum lalu keluar dari ruangan. Ia berlari menuju gurunya dan menceritakan apa yang terjadi tadi.
1 jam…
 2 jam…
Perhitungan skor sudah selesai, semua peserta dan pendamping mulai berdatangan dan duduk di aula. Para juri mulai datang dan duduk didepan. Juri pun mulai mengumumkan,
“Juara 3, yaitu Pricilla M. ,
 juara 2, yaitu Amzy Raka,
dan yang menjadi juara 1, yaitu…
 Fahmi dengan karya tulis yaitu Buah Dengen!”
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah, Fahmi tidak menyangka ia akan menang. Fahmi maju ke depan panggung dan menerima medali, piagam, uang Rp, 25.000.000, serta lolos ke babak internasional. Fahmi sangat senang dan bangga terhadap dirinya dan kini ia tidak malu untuk berjualan dengen. Kini, Fahmi menggunakan uangnya untuk membantu ibunya untuk pengobatan, membayar SPP, dan mewujudkan keinginan ibunya untuk pulang ke kampungnya, yaitu pulang ke Matano. Sekarang, Fahmi mulai mempersiapkan dirinya menuju dunia internasional.



Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku

Pejuang di Tapal Batas