Jika Perlu, Kau Baru Datang

Jika Perlu, Kau Baru Datang
Aqila Dwi Salsabila

            Aku sama seperti orang tua yang lainnya. Selalu sabar dalam menghadapi anak-anaknya. Aku adalah seorang ibu. Namaku Lara. Aku memiliki seorang anak perempuan bernama Kayla. Dia itu anak yang cantik, periang, cerewet -_- , dan nilainya tidak terlalu jelek. Suamiku seorang pekerja kuli bangunan. Kehidupan kami sederhana, namun bahagia. Tidak sama seperti keluarga lainnya, kami mempunyai jadwal keluarga! Jadwal itu tentang tempat wisata apa saja yang akan kita kunjungi untuk 1 bulan, contohnya bulan Maret kita ke kebun binatang, lalu bulan April kita ke Museum hewan, dan lain-lain.
            Anakku, Kayla menginginkan sekolah di luar pulau Sulawesi, yaitu di Bandung. Aku sempat tidak menyetujui perkataannya karena membuat ia akan jarang pulang ke Sulawesi, akan tetapi suamiku mengizinkan anak perempuannya untuk lanjut sekolah di Bandung. Dengan kesal, aku masuk ke kamar dan tak ingin diganggu. Aku khawatir jika anakku pergi jauh ia akan susah untuk hidup, masuk pergaulan yang membahayakannya, serta hanya dia satu-satunya anakku dan dia itu perempuan!
            “Ma?” panggil Kayla.
“Masuk saja, Nak. Pintunya tidak dikunci.” kataku.
“Mama tadi kenapa langsung masuk ke kamar saat aku mengatakan aku ingin melanjutkan sekolahku di Jawa?”
“Tidak, Mama tidak apa-apa. Tadi kepala mama tiba-tiba sakit kok. Cuma itu.”
“Betulan nih? Aku kira mama masuk ke kamar karena tidak ingin mendengar anaknya ini pergi ya?”
“Jaga mulutmu. Sembarangan kamu ya.”
“Oke, Ma. I close my mouth. Yasudah, mama istirahat saja dulu.”
Setelah dia keluar dari kamar, aku pun segera membuka handphoneku dan mencari sekolah unggulan di Bandung. Suamiku pun masuk ke kamar dan menanyakan tentang perkataan anaknya tadi. Akhirnya dengan berat hati, kami pun setuju jika Kayla sudah lulus dari SMP, kita akan lanjutkan dia ke Bandung.
            “Selamat, Nak!” sorakku.
            Hari ini hari kelulusan Kayla, dan ia lulus serta nilai UN-nya tidak terlalu buruk, rata-rata 8,8. Ayah Kayla pun mengambil fotoku bersama Kayla, lalu dia, dan kami bertiga. Kami juga sempat selfie di handphone-nya Kayla. Ya, itulah anak-anak zaman sekarang, dimaklumi sajalah. Setelah hari kelulusan itu lewat beberapa hari, kami pun berangkat menuju Bandung untuk tes masuk sekolah. Ketika sampai di Bandung, kami segera menginap di hotel. Keesokan harinya, kami pun mengantar Kayla ke sekolah ungulan untuk tes masuk. Alhamdulillah, Kayla siswa sari 180 lulus sekolah tersebut. Aku dan suami sangat senang mendengarnya. Kami pun mengurus asrama untuk Kayla, mumpung sekolah ini adalah boarding school. Setelah mengurus semuanya, kami pun kembali ke Sulawesi untuk mengambil barang Kayla dan ke Bandung lagi. Hari itulah aku dan suamiku meninggalkan Kayla di Bandung untuk bersekolah, sedang kami harus kembali ke Sulawesi.
            Kini, aku melewati hari hanya dengan suami. Aku merindukan anakku. Ketika ia mengirimkan pesan kepadaku, aku sangat senang dan segera membaca pesannya. Isi pesannya hanyalah ia ingin pulsa untuk internet. Dengan segera aku ke atm untuk mengirimkannya pulsa, dan aku membalas pesannya bahwa aku sudah mengirimkannya dan aku menyuruhnya untuk menelpon. Ia mengirim pesan lagi dan hanya mengatakan terima kasih, dan ia tidak bisa menghubungiku karena ia sedang sibuk. Aku mengerti kondisinya karena memang saat SMA datang banyaknya kesibukan. Aku pun tak ingin menggangunya dan aku tak ingin menelpon. Ketika hari itu sudah lewat dan sekarang sudah 1 minggu lebih, aku mulai merindukannya dan khawatir dengannya. Aku segera menelponnya bersama suamiku, tapi dia tidak mengangkatnya. Kami pun mulai takut apa yang terjadi di sana. Tiba-tiba ia mengirim pesan bahwa ia baik-baik saja dan jaringan di sana sedang terganggu, dan kami masih mengerti, akan tetapi tidak lama.
            Suamiku mulai mengkhawatirkan anaknya disana, begitu juga denganku. Dia tidak bisa ditelepon karena katanya tugasnya yang sangat banyak. Kayla tiba-tiba mengirimkan ku pesan yang berisi : “Ma, aku minta pulsa lagi dong! Pulsa ku sudah habis nih, dan aku mau daftar paket data. Aku ingin mencari tugasku di internet. Lalu bisakah mama mentransferkan ku uang? Snackku sudah habis, dan rencana aku akan pergi ke mall bersama temanku untuk beli snack. Kayla.”
Ketika aku membaca pesannya, aku segera memberikan handphone-ku kepada suamiku untuk membacanya. Suamiku lega ia mengirimkan pesan dan ia langsung ke atm lagi untuk mengirimkan uang 1.000.000 dan pulsa 100.000. Aku terkejut melihat suamiku yang mengirimkan pulsa terlalu banyak.
“Ayah?! Kenapa kau mengirimkan pulsa terlalu banyak?!” kesalku.
“Supaya dia dapat menelpon kita! Mungkin saja dia tidak pernah menelpon kita karena pulsanya tidak ada, mungkin pulsanya habis karena membayar paket data.” ujar suamiku sambil tersenyum.
“Terserah kamu saja.”
Aku tak dapat membantah suamiku, dia terlalu baik dan penyabar. Aku bersyukur memiliki suami seperti dia. Dia tetap mau menunggu anaknya untuk menelpon sampai tengah malam, aku memberitahu kepadanya bahwa dia tidak akan menelpon karena mungkin dia sudah tidur di sana. Suamiku hanya mengganguk dan tidur. Aku pun kasihan melihat suamiku menunggu anaknya untuk menelpon.
            Keesokan harinya, aku menelpon anakku, ya, hari ini hari Minggu, otomatis dia tidak punya alasan lagi. Kali ini, aku menyadari bahwa anakku mulai belajar berbohong dan mulai melupakan perjuangan orang tuanya. Tiba-tiba teleponku diangkat olehnya.
“HEY! Kenapa kamu baru mau angkat telepon mama?!” teriakku.
“Maafkan aku, Ma. Tadi aku pakai baju, hari ini aku kan mau ke mall sama teman-teman. O iya, makasih ya sudah transferin uang sama pulsa.”
“Iya. Maunya kamu langsung menelpon mama atau papa ketika kau sudah menerimanya. Asal kamu tau ayahmu rela begadang hingga tengah malam untuk menunggu teleponmu!”
“Iyakah? Kalau begitu sampaikan kepada ayah permintaan maafku. Baiklah, Ma. Aku sudah mau pergi. Dah…”
“Hati-hati!”
“Iya, Ma!”
Dan telepon itu tertutup. Aku tak ingin  membangunkan suamiku karena ia masih lelah gara-gara tadi malam menunggu telepon.
            3 tahun berlalu, Kayla lulus di ITB. Sejak itu, kami tambah jarang menelpon dan sms, Kayla juga sudah punya kerjaan di sana, sehingga ia sudah jarang meminta uang. Suamiku juga sudah pension dari kerjaannya sehingga uang semakin menipis dan kami sudah tidak bisa ke bandung untuk melihat Kayla. Kayla juga sudah tidak pernah mau menghubungi kami. Kami yang sudah semakin tua dan butuh juga kasih sayang dari anak. Suatu saat, kami mengirimkan pesan kepada anak kami yang sudah melupakan kami, dia mungkin juga sudah jadi anak yang sukses di sana. Kami mengirim pesan seperti ini :
“Nakku, Kayla. Apakah kamu sudah besar? Apa kabar? Bagaimana sekarang kehidupanmu, Nak? Semoga kamu sekarang sudah jadi anak yang sukses. Kami merindukanmu. Bisakah kamu mengangkat atau kau yang menelpon kami. Kami ingin mendengar suaramu. Atau kami ingin kau kembali ke Sulawesi. Kami ingin melihatmu lebih dekat, kau hanyalah anak kami satu-satunya. Kami ingin memelukmu, Nak. Kami ingin kau ada saat kami sudah tua. Kami mohon kepadamu, Nak. Kami juga sudah tidak bisa ke sana karena uang di tabungan sudah menipis. Salam, Orang tuamu. Semoga kau tak terganggu. Jika kau membacanya, kuharap kamu segera membalasnya.”
Dan aku menekan enter untuk mengirim pesan tersebut. Kami pun duduk di rumput yang dikelilingi bunga dan kami menunggu balasan pesannya sambil berpegangan tangan. Handphoneku berbunyi yang tandanya ada pesan masuk. Dengan cepat aku memakai kacamataku, dan aku membacanya :
“Ma, Pa! Maafkan aku! Selama ini aku berdosa kepada kalian! Tunggu diriku ma, pa!”
Hanya itu?! Hanya itu yang dia balaskan. Kami menghela napas dan tetap menunggunya.
            1 bulan kemudian, suamiku meninggalkanku. Kini tinggal aku sendiri. Suamiku memberikanku pesan : “tetap menjaga rumah ini, dan merawat kuburannya, serta jika Kayla pulang, katakana padanya bahwa aku masih memaafkannya dan merindukannya.”
Aku menangis bila mengingat pesan itu, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu rumah. Ketika kubuka, ada seorang wanita memakai baju yang rapi, membawa mobil mewah, namun ia menangis dan memelukku. Ia itu adalah Kayla! Aku menolak untuk memeluknya dan aku tidak bisa mengampuninya.
“Ma! Ma! Maafkan aku, Ma. Aku sudah melupakan mama dan papa. Maafkan aku, Ma! Kini aku sudah punya suami dan aku sedang mengandung anakku. Aku sedang mengandung cucumu, Ma.” kata Kayla sambil menangis dan tunduk di depanku.
“Sudah terlambat! Kau terlambat datang, Kayla! Kau hanya anakku yang satu-satunya! Namun aku merasa aku tidak punya anak! ASALKAN KAU TAU, AYAHMU SUDAH TIDAK ADA! IA CAPEK MENUNGGU TELEPON DARIMU, IA BERHARAP AGAR KAU MENELPONNYA, NAMUN KAU TIDAK MENELPON KITA! KAU MELUPAKAN KITA! DAN ASAL KAU TAU,  PESANNYA SEBELUM TERAKHIR YAITU IA MERINDUKANMU DAN IA MEMAAFKANMU! BAYANGKAN ITU!” kesalku sambil menunjuknya.
“Maafkan aku, Ma. Aku memang anak yang berdosa, Ma. Tolong, Ma. Maafkan aku, Ma.”
“AKU MEMAAFKANMU! CUMAN AKU BELUM BISA TERIMA ANAKKU SEPERTI INI! JIKA KAU PERLU, KAU MENGIRIMI KAMI PESAN, DAN KAMI DENGAN CEPAT MENGIRIMKANMU, DAN KAU?! TIDAK MEMBALASNYA?! BETAPA JAHATNYA DIRIMU, NAK!”
“Iya, Ma. Maafkan aku, Ma. Tolong, Ma.”
“Huft, aku memaafkanmu. Seberapa pun dosa dan kelakuan yang kau buat, seorang ibu tetap akan memaafkan anaknya.”
“Mama!”
Ia memelukku, dengan sigap aku pun memeluknya. Setelah itu aku pun berkenalan dengan suami Kayla, dia adalah salah satu CEO perusahaan terkenal di Indonesia. Mereka bertemu di kampus. Kemudian kami mengunjungi kuburan suamiku dan kami mengirimkannya Al-Fatihah. Aku melihat penyesalan di mata Kayla, ia memeluk kuburan ayahnya dan terus meneteskan air mata. Aku memeluknya dari belakang lalau menariknya untuk pulang. Mereka pun bermalam di rumah selama 3 hari.
            Saatnya mereka pulang untuk bekerja lagi. Aku diajak Kayla untuk ikut dengannya ke Bandung, namun aku menolaknya karena masih memegang pesan suamiku untuk tetap menjaga rumah yang kami buat sama. Kayla pun mengerti dan mengambil 1  asisten rumah untuk menjagaku dan menjadi temanku serta membersihkan rumahku hingga aku tidak perlu letih untuk membersihkan rumah. Kayla pun berjanji akan pulang setiap 3 bulan sekali dan akan melaksanakan aqiqah anak pertamanya di sini. Senangnya. Sebentar lagi aku mempunyai cucu, seandainya kau bisa menggendong dan bermain dengan cucumu juga, suamiku.


Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku

Pejuang di Tapal Batas