Penantian yang Menyakitkan

Penantian yang Menyakitkan
Aqila Dwi Salsabila

            Matahari datang untuk menyinari pagi ini, dan Tasya mengambil tas selempangnya untuk pergi ke kebun. Ya, matahari semakin panas saja membuat tubuh ini menjadi keringatan, namun itu tak dapat menjadi penghalang Tasya untuk berkebun. Musim ini sudah musim panen, banyak warga sudah datang ke kebunnya untuk memanen, termasuk Tasya. Orang tua Tasya sudah tiada, namun ia tetap berusaha keras untuk mencari uang, dan ia sekarang menjadi pekebun yang sukses. Tidak lupa, setelah selesai memanen ia langsung menjualnya di pasar kota, dan hasil kebunnya selalu mendapat keuntungan yang besar. Setelah pulang dari pasar, ia menemui kekasihnya, Zikra. Zikra seorang pelaut, dan ia hanya pulang sebulan sekali. Kali ini Zikra pulang dan aka nada di desa selama seminggu. Tasya segera bertemu dengan Zikra di bawah pohon besar yang ada di desa.
            “Zikra!” teriak Tasya.
            “Tasya!” jawab Zikra.
            Mereka pun berpelukan untuk melepaskan rindu. Kemudian mereka bercerita pengalaman mereka selama 1 bulan. Zikra kali ini baru saja dari pulau Sumatra dan membawakan Tasya oleh-oleh. Tasya terkejut dan ia sangat senang, ketika menerima oleh-oleh dari Zikra, dengan sigap ia pun membukanya. Ternyata Zikra memberikan sebuah kalung dan gelang. Tasya tidak percaya akan mendapatkan barang itu dari Zikra, dan menurutnya itu merupakan barang yang sangat berharga. Zikra mengambil kalung dan gelang tersebut lalu memasangkannya ke Tasya. Dengan tersipu malu, Tasya pun mengikat rambutnya, lalu Zikra memasangkan ia kalung serta gelang. Setelah dipasangkan Tasya melihat kalung dan gelang yang diberikan, di wajahnya terlihat kesenangan. Tasya mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikan kepada Zikra, ternyata itu adalah sweater yang dibuat Tasya selama 1 bulan untuk menunggu Zikra.
“Sya, sweater ini bagus sekali, dan lembut.” ujar Zikra sambil memuji.
“Terima kasih. Ini kubuat untuk menghilangkan rasa kesepianku menunggumu, Zikra.” kata Tasya sambil tersipu malu.
“Wah! Terima kasih, Sya. Ini adalah sweater yang terbaik, apalagi yang membuatnya orang yang tangannya lembut.”
“Gombal lagi. Jangan pernah kau meninggalkan ku lagi, Kra. Aku kesepian di sini.”
“Hehehe..Hmmm…Maafkan aku, Sya. Ini adalah rute terakhir aku melaut. Setelah ini, aku berjanji akan pulang dan meminangmu.”
“Yang terakhir ya? Baiklah, Zikra. Aku akan menunggumu. 1 bulan lagi. Aku memegang janjimu, Kra.”
“Iya, 1 bulan lagi, kok. Kamu siap-siap saja ya. Tunggu aku pulang. Jika kamu merindukanku, kau bisa melihat bulan saat malam, dan jika aku merindukanmu aku juga akan melihat bulan. Dengan begitu kita dapat saling menatap lewat bulan.”
“Baiklah, jika aku rindu maka akan kulihat bulan, Kra.”
“Begitu pula denganku. Oke, sekarang kita bahas yang lain. Mumpung aku ada di sini selama 1 minggu, mari kita menghabiskan waktu itu bersama!”
“Iya! Ayo!”
Setelah Zikra berjanji dan menyampaikan tentang menatap bulan, aku memegang kata-katanya dan aku akan melakukannya, yaitu menunggunya dan menatapnya lewat bulan.
            Mereka menghabiskan waktu bersama, yaitu pergi ke sungai untuk bermain air, bermain ayunan tua yang ada di pohon besar, piknik bersama, tidak lupa untuk memanen di kebun Tasya bersama (meringankan pekerjaan Tasya), bersepeda di sore hari mengelilingi desa, membeli baju baru, dan memetik bunga. Mereka sangat bahagia, seperti mereka adalah cinta sejati. 1 minggu berlalu, saatnya Zikra untuk pergi berlaut lagi. Zikra yang melihat mata Tasya mulai berkaca-kaca, ia segera mendatanginya sebelum naik ke perahu.
“Tasya, jangan menangis. Kumohon. Ini, ambilah sapu tanganku.” kata Zikra.
“Kamu janji akan kembali kan? Iya kan?” tanya Tasya dengan kekhawatiran.
“Tenang, cinta sejatiku. Aku pasti akan kembali. Dan ingat, 1 bulan lagi aku akan meminangmu. Kalau kau merindukan jangan lupa lihat…”
“Lihat bulan saat malam, maka kita akan saling bertatapan lewat bulan. Aku memegang janjimu, Kra.”
“Oke, sepertinya kapalku sudah mau berangkat. Ambil saja sapu tanganku. Itu sebagai salah satu kenang-kenangan ku juga.”
“Baiklah. Aku akan mengikatkannya di tanganku. Hati-hati, cinta sejatiku.”
“Kau juga, cinta sejatiku.”
Mereka pun berpelukan, dan Zikra naik ke kapal. Kapal itu jalan dan semakin jauh dari desa. Tasya hanya melambaikan tangannya sambil memegang sapu tangan Zikra. Zikra pun membalas lambaian tangan Tasya. Tasya berharap Zikra agar cepat kembali.
            Hari demi hari berlalu, di tangan Tasya masih ada sapu tangan dari Zikra. Ia tetap mengikatnya seperti ia mengikat janji Zikra. Ia memakainya sehari-hari. Ketika sudah malam, Tasya mulai membuka pintu rumahnya dan duduk di teras rumahnya sambil melihat bulan yang menyinari bumi. Ia menatapnya dan tersenyum.
“Zikra? Apakah sekarang kau juga melihat bulan sama sepertiku? Apakah sekarang kita saling menatap melalui bulan?” Aku harap begitu.
Tasya terus menatap bulan tersebut hingga jam menunjukkan pukul 22.00. Tasya yang menyadari bahwa ini sudah larut malam, mulai berdiri dari kursinya lalu masuk ke dalam rumah untuk tidur. Bahkan sapu tangan yang diberikan Zikra masih ia ikat ditangannya.
            “Sisa 1 minggu lagi!” sorak Tasya dengan gembira.
            Seperti biasa, Tasya melewatkan hari-harinya di kebun, pasar, dan sungai. Ketika malam ia duduk di teras rumahnya dan menatap bulan, berharap bahwa saat itu ia sedang bertatapan dengan Zikra. Kali ini Tasya sudah mulai membeli perlengkapan pernikahan di pasar. Orang-orang heran melihat Tasya membeli barang tersebut. Mereka pun bertanya,
“Ngapain kamu beli barang-barang seperti ini, Sya?”
“Untuk persiapan saja.” kata Tasya.
“Persiapan apa? Jangan-jangan kamu sudah mau nikah ya?”
“Belum kok, mba. Cuma mau beli aja.”
“Ouu, kirain sudah mau nikah atuh.”
“Hehehe.”
Tasya tertawa kecil, namun dalam hatinya ia berkata bahwa ia tidak lama lagi akan dipinang oleh Zikra.
            Akhirnya 1 minggu itu lewat dengan begitu cepat, hati Tasya semakin berdebar untuk menunggu Zikra di pelabuhan desa. Ketika ia melihat sebuah kapal yang besar dan kapal tersebut yang pernah dinaiki Zikra, Tasya semakin deg-degan menunggunya. Ketika kapal itu sudah berhenti, semua orang mulai turun dan Tasya tidak melihat Zikra sama sekali. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yaitu teman Zikra, lalu ia memberikan sesuatu kepada Tasya. Tasya melihat apa yang diberikannya, dan ternyata sebuah surat. Tasya mulai ketakutan. Dia pun membuka surat tersebut dan membacanya,
“Cinta sejatiku, Tasya. Maafkan kandamu ini, Zikra tidak bisa pulang cepat dikarenakan aku harus merantau dulu selama 1 bulan di Sumatra. Aku dipanggil oleh temanku untuk merantau dan aku tidak bisa menolak. Aku terpaksa merantau untuk mendapatkan uang yang lebih banyak agar kita dapat merayakan pesta pernikahan kita dengan meriah. Aku akan cepat kembali. Tunggu diriku. Aku juga masih mengingat janjiku, tapi kumohon maafkan aku. Ini demi kita juga nantinya saat selesai menikah.
Tertanda, Zikra.”
Tasya menangis membaca surat itu dan lari secepatnya pulang ke rumah. Ia menyimpan surat itu di dalam kotak perhiasannya, lalu ia bertekad untuk tetap bertahan menunggu Zikra pulang. Ia pergi merantau demi Tasya, sehingga Tasya juga bertekad untuk tetap menunggunya dan tetap menatapnya melalui bulan.
            Sungguh kasihan nasib Tasya. Ternyata Zikra saat pergi merantau mendapatkan wanita lain, dan menikahinya. Mereka pun hidup bahagia di pulau Sumatra. Sedangkan Tasya setiap pagi hari hingga sore hari tetap duduk di pinggir pelabuhan untuk menunggu Zikra, namun ia tak kunjung datang. Saat itu pun belum ada yang namanya kita dapat mengirim surat atau bertelponan. Tahun demi tahun berlalu, Tasya tetap setia menunggu Zikra di pinggir pelabuhan. Kini ia sudah tidak mengurus kebunnya lagi, uangnya sudah habis. Tasya pun semakin tua.  Ketika malam tiba, ia tetap melihat bulan yang bersinar di langit. Bahkan ia menatap bulan hingga tertidur. Tasya semakin susah berjalan, namun ia memaksa kakinya untuk berjalan menuju pelabuhan. Ia ingin melihat masih adakah kapal yang akan datang, dan di dalam kapal itu adakah Zikra-nya. Setiap kapal yang datang, ia segera berdiri dan melihat setiap penumpang yang turun, namun sayang Zikra sudah tidak akan kembali. Tasya kembali pulang ke rumahnya dan mengatakan pada dirinya bahwa Zikra akan kembali dan meminangnya. Keesokan harinya Tasya ditemukan meninggal di teras rumahnya karena menatap bulan dengan penuh pengharapan. Di tangannya, masih ada sapu tangan Zikra yang terikat. Sungguh, perjuangan Tasya menunggu Zikra yang sia-sia. Penantiannya kepada Zikra yang sangatlah menyakitkan.



Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku

Pejuang di Tapal Batas