Pejuang di Tapal Batas

Pejuang di Tapal Batas
Aqila Dwi Salsabila
“Siap…Gerak!” teriak komandan.
Para tentara mulai mengikuti arahan komandan, termasuk diriku. Aku salah satu tentara yang membela dan melindungi negara tercinta. Kami dilatih untuk penilaian tentara setiap tahunnya. Setelah kami latihan baris-berbaris dan membidik lawan, saatnya kami untuk istirahat sebentar. Namaku Kasim, sekarang aku masih sebagai anak buah karena aku baru saja masuk tentara. Aku juga sudah punya istri dan ia sedang mengandung anakku. Aku tidak bisa pulang seenaknya saja, kami para tentara hanya bisa pulang saat lebaran karena negara membutuhkan kami, untuk menjaga negara.
Cuaca yang panas tidak membuatku menyerah untuk tetap latihan, agar aku dapat nilai bagus dan dapat naik pangkat. Aku juga tidak menyesal mengikuti kemauanku, yaitu menjadi tentara karena ini adalah cita-citaku sejak kecil, yaitu bagaimana agar aku bermanfaat bagi negaraku, serta menjaga semua yang dipunya oleh negaraku. Setelah beristirahat sebentar di mess, ada pengumuman yang menyampaikan bahwa semua tentara harus berkumpul di lapangan sekarang! Aku segera bersiap-siap dan menuju lapangan. Di lapangan ternyata sudah banyak tentara yang kumpul, aku segera ikut berbaris. Ketika semua tentara terkumpul, Komandan mulai berbicara. Ternyata saat ini, wilayah perbatasan tidak ada yang menjaganya lagi, sehingga kita dikumpul untuk dipilih menuju wilayah perbatasan untuk menjaga.
“Kali ini saya akan membacakan perwakilan tentara dari wilayah kita yang akan berangkat menuju wilayah perbatasan, yaitu Leonard, Gugus, Kasim, Dirga, Adit, Tara, Gilbert, Muhammad Arsyan, Ahmaddun, dan Bobby.” kata Komandan.
Aku terkejut! Aku menjadi salah satu perwakilan yang akan pergi ke wilayah perbatasan. Ini pertama kalinya aku ke sana! Kami ber-10 orang dipanggil ke kantor Komandan lalu diberi arahan, kita akan 2 bulan di sana untuk berjaga, lalu tukaran dengan tentara dari wilayah lain.
            Ruangan mess 4 x 4 meter ini tempat aku beristirahat. Ya, aku kembali ke mess untuk menyiapkan barang-barang dan baju yang akan kubawa nanti. Aku akan berangkat besok pagi bersama teman-teman. Sebelumnya aku harus menghubungi istriku di rumah, aku mungkin tidak akan pulang sebelum lebaran, melainkan sesudah lebaran karena tugas ini.
“Assalamualaikum, Dek?” kataku.
“Waalaikumsalam, Kak. Ada apa, Kak? Apa ada masalah?” tanyanya.
“Tidak kok. Aku hanya ingin memberitahu bahwa aku dikirim bersama teman-temanku ke wilayah perbatasan.”
“Oya? Baiklah, Kakak harus jaga kondisi tubuh, harus kembali dengan selamat tanpa terjadi apa-apa yah! Kapan kakak berangkat?”
“Insha Allah besok pagi, Dek. Pasti dek, aku akan menjaga diriku karena sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Dan kabar selanjutnya mungkin kakak tidak akan pulang sebelum lebaran, melainkan setelah lebaran.”
“Kenapa bisa, Kak? Masa aku lebaran sendiri, Kak? Terus aku juga sudah 8 bulan kalau lebaran, dan disaat itulah kau harus ada di sampingku, Kak. Kan kakak sendiri yang janji jika aku sudah 8 bulan maka kakak akan mengambil cuti untuk menemaniku.”
“Iya, Dek, aku mengerti kok, tapi bagaimana lagi? Aku tidak bisa menolak tugas ini, Dek. Mungkin aku akan menyuruh ibu untuk bersamamu sementara, ketika aku sudah pulang dari wilayah tersebut aku langsung ke rumah untuk menemanimu. Masalah cutinya kakak sudah tanya pada Komandan dan ia mengizinkan kok, asalkan kakak harus menyelesaikan tugas ini dulu.”
“Baiklah, Kak. Aku mengerti. Cepat pulang ya! Jaga diri kakak baik-baik. Anak dan istrimu menunggumu di rumah.”
“Iya, Dek. Aku akan jaga diriku baik-baik, begitu juga dirimu ya!”
“Iya, Kak.”
“Yasudah, kakak ingin memasukkan baju dulu. Nanti jika kakak sudah sampai di sana, kakak akan menelpon adek. Assalamualaikum.”
“Iya, Kak. Waalaikumsalam.”
Setelah mengakhiri telepon dengan istri, aku lega karena sudah memberitahunya dan mendapatkan izin darinya. Baiklah saatnya untuk packing.
            Tepat pukul 05.00 WITA dan masih terasa sangat dingin diluar sini! Kami menunggu bis yang akan mengantar kami menuju bandara. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya bis situ datang juga. Kami segera menyusun barang kami dibelakang bisa lalu duduk di kursi bis. Berangkat menuju bandara, let’s go! Kami sampai di bandara pukul 06.00 WITA, ya memang mess kami dengan bandara jauh, memakan waktu sekitar 1 jam. Aku menurunkan barangku, menaruhnya di trolley bandara lalu masuk ke bandara dan check-in. selesai check-in, aku bersama teman-teman menuju gate-2 untuk menunggu panggilan masuk ke pesawat. Setelah 2 jam, menunggu, akhirnya kami boarding pass dan berangkat! Yay!
            Akhirnya setelah perjalanan yang lama kami sampai di bandara. Kami dijemput oleh bisa yang sudah disiapkan lalu kami berangkat menuju wilayah perbatasan. Jalan yang kami pertama sangatlah bagus, namun lama-lama kami memasuki hutan-hutan, jalan yang berkerikil dan tidak lurus (berliku-liku), menanjak, dan agak terjal. Sesudah kita melihat jalanan yang rusak akhirnya kita sampai di mess untuk para tentara yang menjaga wilayah perbatasan. Ya, mess tidak terlalu kecil, namun kita bisa nyaman untuk beristirahat. Mess disini terbuat dari kayu sedang mess di kota sana terbuat dari beton. Akhirnya karena hari sudah malam dan mungkin istriku sudah tidur sehingga aku mengakhiri hari dengan meluruskan badan di kasur dan tidur.
            Alarmku berbunyi, tandanya sudah pukul 05.00 WITA. Aku segera mengambil wudhu di kamar mandi dan salat Subuh. Selesai salat, aku membangunkan temanku yang islam untuk salat Subuh. Selesai mereka kubangunkan, aku segera mandi. Selesai mandi, aku mulai memakai seragamku dan melengkapi badanku dengan senjata serta melindungi kepalaku dengan helm tentara. Aku keluar dari mess dan melihat matahari yang sudah mulai terbit. Fajar telah tiba. aku duduk di tanah dan menyaksikan matahari sambil menghirup udara yang sangat segar. Aah! Segarnya. Aku teringat pada istriku yang belum kutelepon sejak tadi malam, aku segera kembali ke mess untuk mengambil handphoneku dan keluar lagi. Saat aku ingin menelponnya ternyata di sini tidak ada signal! Aku pusing mencari signal! Satu-satunya cara agar mendapat signal dengan ke tempat yang lebih tinggi lagi.
“Assalamualaikum, Dek.” Kataku sambil terengah-engah.
“Waalaikumsalam, Kak. Eh? Kakak kenapa terengah-engah? Emangnya habis apa?” tanyanya.
“Habis manjat pohon nih, Dek. Disini tidak ada signal, susah! Kalau nanti tiba-tiba putus berarti signalnya hilang ya, Dek.”
“Iya, Kak. Kasihan ya suamiku. Semoga saja kalau pulang dari sana bisa naik jabatan deh.”
“Aamiin, Dek. Hehehe. Mungkin kakak juga akan jarang nelpon adek nih, tidak apa-apa kan?”
“Kalau masalah signal sih kak, ya tidak apa-apa kok. Yang penting kakak fokus saja sama tugasnya ya!”
“Iya, Dek. Tunggu kakak ya!”
“Iya, Kak. Pasti deh!”
“Yasudah, Dek. Kakak dipanggil sama teman dibawah. Sekali lagi maafkan kakak karena akan jarang menelpon ke rumah. Assalamualaikum.”
“Iya, Kak. Tidak apa-apa. Waalaikumsalam.”
Aku mengakhiri telepon dan segera turun dari pohon, kemudian aku bersama Arsyan dan Adit berjalan mengelilingi wilayah perbatasan.
            1 jam berlalu…
            Letih juga berkeliling melihat wilayah perbatasan. Setelah semua tentara siap, kami dibagi-bagi daerah untuk berjaga dan harus kembali pada pukul 17.00 WITA untuk tukaran dengan tentara yang lain. Sesuai jadwal, Alhamdulillah aku dapat jadwal menjaga saat pagi hari. Bersama Leonard, kami mendapat daerah yang sama, sehingga kita selalu bersama menjaga. Senangnya ada teman yang dikenal untuk menjaga daerah bersama.
            Sambil menjaga wilayah perbatasan, aku melihat anak-anak di sini hanya bermain saja dan membantu orang tuanya. Memang di daerah sini belum ada sekolah, sehingga mereka belum bisa meninmba ilmu. Aku menghampiri mereka dan bertanya kepada mereka.
“Hey anak-anak! Kalian tidak sekolah ya?” tanyaku.
“Wah pak tentara! Tapi, apa itu sekolah, Pak?” tanya mereka.
“Kalian tidak tau? Sekolah itu tempat kita belajar bersama-sama.”
“Wah! Aku ingin ke tempat itu. Aku selalu saja sendiri belajar.” teriak anak laki-laki.
“Kalau begitu, kalian mau belajar sama saya?”
“MAU!”
“Yasudah, sebentar sore kita bertemu di sini dan belajar.”
“Makasih, Pak.”
Mereka berlari pulang untuk memeberitahukan berita ini kepada orang tua mereka. Mereka sangatlah senang. Aku kasihan melihat mereka tanpa ada listrik, teknologi, dan kurangnya pendidikan.
            Sore telah tiba! Aku membawa papan tulis dan spidol ke bawah pohon, ternyata sudah banyak anak-anak yang ada di sana sambil duduk dan membawa buku. Aku senang melihat antusias mereka. Setelah merapikan segalanya, aku mulai bertanya 1 hal kepada mereka,
“Sebelum belajar, Bapak mau tanya sesuatu. Kalau sudah besar, kalian mau jadi apa?”
“Aku mau jadi dokter! Supaya bisa tolong ibu kalau sakit!” sorak seorang anak perempuan, Dita.
“Mau jadi tentara kayak bapak! Supaya bisa jaga negara kita ini!” sorak Kai.
“Kalau aku mau jadi presiden! Supaya bisa membantu orang kayak kita ini, seperti dapat sekolah, dapat lampu, dan lain-lain!” sorak Maya.
“Wah! Aamiin ya Allah! Semoga semua cita-cita kalian tercapai. Semua cita-cita kalian bagus! Sekarang, untuk meraih semua itu kita harus memulainya dengan 1 hal.”
“Apa itu, Pak?” tanya mereka.
“Yaitu B-E-L-A-J-A-R! KALIAN SIAP?!” semangatku.
“Tentu, Pak!” sorak mereka.
Akhirnya aku memulai untuk mengajari mereka sampai malam, saat malam aku menggunakan lentera untuk menerangi tempat belajar kami.
            Hari Senin kami mempelajari tentang negara kami dan matematika. Hari Selasa kami mempelajari bahasa dan IPS. Hari Rabu kami mempelajari tentang IPA Biologi. Hari Kamis kami mempelajari tentang IPA Fisika. Hari Jumat, aku mendapat bantuan dari teman-temanku untuk mengajari anak-anak agama. Pada Sabtu dan Minggu kami bermain bola, memasak bersama, dan main kejar-kejaran di lumpur. Semua ini kubuat untuk membahagiakan mereka dan mencerdaskan mereka agar dapat bermanfaat bagi negara suatu saat nanti. Semakin hari, mereka semakin cerdas, dan aku bangga melihat mereka. Aku juga mulai mengajarkan menyanyikan lagu kebangsaan dan upacara. Mereka sangat suka upacara.
            Aku tak ingin hari ini datang, namun aku juga harus pulang karena istriku sudah melahirkan dan aku harus menggendong serta mengadzankan anakku, lagi pula waktu bertugasku menjaga wilayah perbatasan sudah habis. Aku tak tega meninggalkan anak-anak ini, namun itu harus terjadi. Aku memberikan semua buku yang kubawa, tasku, dan topiku. Mereka memelukku dan menangis. Aku memeluk mereka dan berjanji pada mereka aku akan kembali membawa seragam, sepatu, tas, dan buku bacaan yang baru. Mereka bersorak dan mengantarku menuju mobil. Aku naik ke mobil dan melambaikan tangan, mereka pun melambaikan tangan.
            Sesampainya aku di rumah, aku mulai menceritakan semuanya kepada istriku, dan istriku menangis. Ia mempunyai teman yang dapat membantu kami untuk membelikan mereka buku dan seragam sekolah, aku pun bekerjasama dengannya untuk membantu anak-anak itu. Sekarang sudah ada guru yang mengajarkan mereka disana, mereka pergi ke sekolah menggunakan seragam mereka, mendapatkan buku bacaan, dan sekarang di sana sedang di bangun sekolah. Mereka sangat bersemangat dan sangat berterima kasih kepadaku, aku tersenyum padanya dan memeluk mereka.


Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku