Sahabat Pertama, Sahabat Sejati
Sahabat Pertama, Sahabat Sejati
Aqila
Dwi Salsabila
Pagi hari yang cerah,
pagi ini dihiasi oleh rumput-rumput yang hijau, bunga yang berwarna-warni, dan
kicauan burung. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah Linda untuk semester
genap. Seperti biasa, Linda bangun pagi lalu segera mandi dan makan pagi
bersama keluarganya. Jam 06.30, Linda mulai bersiap-siap menuju ke sekolah.
Linda adalah seorang anak sederhana dan ia tidak mau diantar jemput, jadi
biasanya ia naik sepeda ke sekolahnya. Jam 06.35 akhirnya Linda berangkat
menuju ke sekolah. Di perjalanan menuju ke sekolah, Linda melihat
teman-temannya yang berjalan bersama, ada teman yang diantar pakai mobil, dan
lain-lain. Saat ke sekolah, Linda pasti selalu melewati tempat berkumpulnya
angsa, atau biasa disebut “Taman Angsa”, jadi setiap Linda pergi ke sekolah ia
pasti singgah untuk memberi makan angsa-angsa lalu berangkat ke sekolah.
Sampai
di sekolah, Linda memarkir sepedanya lalu bersegera masuk ke sekolah. Sekolah
Linda bernama SMP Negeri Jaya 15. Di sekolahnya, Linda melihat teman-temannya
memakai perlengkapan sekolah baru sedangkan dia memakai perlengkapan sekolah
yang bekas, tapi itu tidak membuatnya letih dan malas untuk belajar. Di
sekolahnya Linda tidak mempunyai teman apalagi sahabat karena selain orangnya
sederhana ia juga pemalu dan pendiam, oleh sebab itu Linda selalu jalan sendiri
tanpa ada sosok teman menemaninya disamping. Jam 07.30 akhirnya bel pertama
berbunyi, artinya siswa-siswi masuk ke ruang wali kelas untuk bertemu dengan
wali kelas dan mendengar informasi dari wali kelas. Mendengar bel pertama,
Linda segera mempercepat langkahnya ke ruang wali kelasnya karena berhubung
ruang wali kelasnya jauh.
Masuk
kelas, seperti biasa Linda duduk sendiri tanpa ada orang disampingnya,
sedangkan teman-temannya semua memiliki pasangan sebangku. Linda hanya bisa
pasrah dan diam, namun ia tetap berpikir, “Ngapain punya teman di sekolah, kan
ke sekolah hanya untuk menuntut ilmu, bukan untuk bertemu dan bermain sama
teman.” Dalam hati Linda. Saat wali kelas Linda masuk, semua teman kelas Linda
duduk dengan rapi dibangkunya dan terheran-heran, yah di belakang wali kelas
ada seorang siswi baru, namun Linda menganggapnya biasa-biasa saja. Setelah
disiapkan oleh ketua kelas, wali kelas menyuruh siswi baru itu untuk
memperkenalkan diri, lalu siswi baru itu berkata, “Hai teman-teman! Saya murid
baru di sekolah ini dan di kelas ini, perkenalkan nama saya Anintiana Chika A.
kalian bisa panggil saya Chika, salam kenal.” Anak-anak di kelas pun menjawab,
“Salam kenal juga Chika.” Kemudian wali kelas mempersilahkan murid-murid untuk
bertanya ke Chika, kemudian ada seorang siswa yang bertanya, “Kenapa kamu
pindah sekolah?” dengan cepat Chika menjawab, “Saya pindah sekolah akibat
bencana alam di Banjarnegara kemarin, rumahku dan sekolah hancur dilanda
longsor yang sangat dasyat, sehingga ayah dan ibuku memutuskan untuk pindah
kesini dan meninggalkan Banjarnegara untuk selamanya.” Lalu ada siswi yang
bertanya, “Sekarang kamu tinggal dimana?” Chika menjawab, “Sekarang aku tinggal
di rumahku, aku punya rumah disini karena ayahku pernah lama kerja disini
sehingga ia pernah beli rumah kecil untuk tempat tinggalnya, itu juga yang
membuat orang tua ku memutuskan pindah kesini karena disini ada rumah.” Setelah
siswa-siswi bertanya panjang lebar, akhirnya wali kelasnya memberhentikan sesi
tanya jawab dan menyuruh Chika untuk duduk disamping Linda. Saat Chika duduk di
samping Linda, hati Linda berdebar, lalu pikirannya, “Kenapa hatiku berdebar?
Apakah dia bisa menjadi sahabatku? Aku takut!” Chika melihat wajah Linda yang
cemas lalu berkata, “Hai! Namaku Chika, kamu?”
“Namaku Linda” Jawab Linda dengan suaranya yang kecil dan nada datar.
“Namaku Linda” Jawab Linda dengan suaranya yang kecil dan nada datar.
Bel
kedua akhirnya berbunyi, itu tandanya sudah masuk pelajaran sesi pertama –
kedua. Sampai di kelas pelajaran pertama Linda duduk sendiri dibelakang, dengan
sigap Chika langsung duduk disamping Linda, Linda kaget melihat Chika mau duduk
disampingnya, Chika adalah orang pertama yang mau duduk disampingnya, tiba-tiba
Chika berkata, “Aku melihatmu tidak punya teman sebangku, dan aku melihat kursi
ini tidak ada yang duduki, bolehkah aku duduk disini?”
“Yah, tentu saja boleh. Disitu tidak ada siapa-siapa kok.”Jawab Linda dengan malu. Dari pelajaran sesi pertama sampai pelajaran terakhir Chika selalu mau duduk bersama dengan Linda, mereka terlihat mulai akrab. 2 sampai 3 hari kemudian mereka masih duduk berdua, mereka mulai berjalan ke kelas dan ke kantin bersama, Linda mulai senang sekaligus mulai berani bersama Chika.
“Yah, tentu saja boleh. Disitu tidak ada siapa-siapa kok.”Jawab Linda dengan malu. Dari pelajaran sesi pertama sampai pelajaran terakhir Chika selalu mau duduk bersama dengan Linda, mereka terlihat mulai akrab. 2 sampai 3 hari kemudian mereka masih duduk berdua, mereka mulai berjalan ke kelas dan ke kantin bersama, Linda mulai senang sekaligus mulai berani bersama Chika.
Hari
Jumat, Linda baru tahu ternyata dia dan Chika adalah tetangga, ternyata rumah
kecil didepan rumah Linda yang terlihat kosong adalah rumah Chika, jadi setiap
pagi mereka mulai bareng ke sekolah naik sepeda, dan seperti biasa Linda
singgah dan mengajak Chika untuk memberi makan si angsa-angsa. Pulang sekolah
mereka sempat singgah di Taman Angsa untuk duduk santai dan memberi makan angsa-angsa,
setelah memberi makan angsa mereka pergi membeli es krim untuk makan dan
menganjal lapar. Di taman itu Linda mulai berani mengatakan sesuatu ke Chika,
yaitu “Chi, aku minta nomor teleponmu dong, aku juga ingin berkunjung kerumahmu
besok, boleh?”
“Tentu saja! Ibuku pasti bakal senang ada temanku yang akan datang, ini nomor teleponku.” Chika memberikan selembar kertas ke Linda yang berisi nomor telepon Chika, lalu Linda segera menyimpan selembar kertas itu didalam tasnya. Setelah es krimnya habis, mereka melanjutkan perjalanan pulang sambil tersenyum dan sesekali tertawa gembira.
“Tentu saja! Ibuku pasti bakal senang ada temanku yang akan datang, ini nomor teleponku.” Chika memberikan selembar kertas ke Linda yang berisi nomor telepon Chika, lalu Linda segera menyimpan selembar kertas itu didalam tasnya. Setelah es krimnya habis, mereka melanjutkan perjalanan pulang sambil tersenyum dan sesekali tertawa gembira.
Sabtu
pagi, Linda bangun sangat cepat pagi ini, karena hari ini Linda mau berkunjung
ke rumah Chika dan ia ingin berlama-lama di rumah Chika. Dengan cepat Linda
langsung mandi lalu makan dan pergi memberi makan angsa-angsa lalu ke rumah
Chika. Linda membawakan coklat hasil buatannya untuk Chika, yah Linda adalah
anak yang jago memasak, sampai-sampai di dapur bukan mamanya yang memasak tapi
dia yang memasak untuk keluarganya. Linda mengetuk-ngetuk pintu rumah Chika,
saat pintu itu terbuka ternyata yang membukanya adalah adik kembarnya Chika,
kemudian Linda dipersilahkan masuk. Saat Linda masuk, Linda sempat
melihat-lihat foto-foto Chika yang digantung di dinding ruang tamu, Chika
ternyata anak pertama dari tujuh bersaudara, wow! Saat Chika keluar, iaterlihat
baru bangun tidur, Chikameminta maaf ke Linda karena sangat ngatuk habis nonton
film horror tadi malam bersama adik-adinya, lalu Chika menyuruh Linda untuk
masuk kekamarnya. Linda disuruh Chika untuk menunggunya dikamarnya. Linda
melihat-lihat foto Chika saat kecil di atas meja belajar Chika. Setelah mandi
dan merasa segar, Chika memanggil Linda untuk duduk di ruang tamu meminum teh
dan makan biskuit. Mereka berbincang-bincang tentang film yang Chika nonton
tadi malam, lalu Chika mengingat sesuatu lalu dia lari ke dalam kamarnya, Linda
heran melihat Chika seperti itu. Setelah Chika keluar dari kamarnya ternyata ia
mengambil koleksi fotonya yang masih sempat dia ambil saat bencana itu terjadi.
Chika memberikan buku itu ke Linda dan menyuruhnya untuk melihat-lihat foto
didalam situ. Saat melihat foto-foto Linda kaget dan memperhatikan foto itu,
lalu Chika menjelaskan foto apa itu, “Itu foto rumah sang petualang di belakang
sekolah. Kami membuatnya menggunakan kayu dan tali, meski hanya luncuran dan jembatan,
namun di situlah tempat kami selalu berkumpul untuk bermain, cerita, curhat,
kerja tugas, diskusi, dan masih banyak lagi.”
“Ini teman-temanmu ya?” Tanya Linda,
“Ini bukan temanku, tapi mereka adalah sahabat sekaligus tetanggaku, namun aku tidak tahu keberadaan mereka dimana sekarang, dan aku pernah dengar kabar bahwa Kaito, sahabatku yang berkulit sawo matang itu meninggal dunia karena terkena longsor dasyat itu. Aku masih ingin dan ingin sekali bermain di rumah sang petualang itu dan bertemu sahabatku.” Jawab Chika dengan panjang lebar
“Kamu yang sabar saja, sekarang kan ada aku,” Kata Linda
“Iya.” Jawab Chika. Lalu mereka pergi jalan-jalan ke Taman Angsa berdua menaiki sepeda untuk membeli es krim lagi.
“Ini teman-temanmu ya?” Tanya Linda,
“Ini bukan temanku, tapi mereka adalah sahabat sekaligus tetanggaku, namun aku tidak tahu keberadaan mereka dimana sekarang, dan aku pernah dengar kabar bahwa Kaito, sahabatku yang berkulit sawo matang itu meninggal dunia karena terkena longsor dasyat itu. Aku masih ingin dan ingin sekali bermain di rumah sang petualang itu dan bertemu sahabatku.” Jawab Chika dengan panjang lebar
“Kamu yang sabar saja, sekarang kan ada aku,” Kata Linda
“Iya.” Jawab Chika. Lalu mereka pergi jalan-jalan ke Taman Angsa berdua menaiki sepeda untuk membeli es krim lagi.
Malam
minggu Linda berpikir cara untuk membuat Chika betah dan senang disini, lalu
Linda punya ide yang cemerlang kemudian ia dengan cepat berlari ke ayahnya dan
bertanya,”Ayah, Ayah! Ayah masih punya sisa-sisa kayu dan tali? Tanya Linda,
“Masih ada, emangnya kamu mau apain kayu dan tali itu?” Tanya Ayah Linda,
“Aku mau buat rumah sang petualang untuk Chika agar ia senang dan betah disini!” Jawab Linda,
“Wah anak ayah sudah punya teman ya? Selamat ya!” Kata Ayah Linda,
“Iya ayah, tapi ayah tolong aku untuk buat rumah itu, boleh?” Tanya Linda,
“Ayah akan bantu kamu untuk mempererat tali pertemananmu bersama si Chika, tapi ini sudah malam, kita buatnya besok saja.” Kata Ayah Linda,
“OK ayah.” Jawab Linda. Jam 11.00 Linda masuk ke dalam kamarnya untuk tidur, lalu baru mungkin satu menit di kasur, Linda sudah mendengkur, dia sudah tertidur sangat nyenyak. Tengah malam tiba-tiba Linda keringat dingin dan berteriak-teriak, ternyata ia mimpi, ia memimpikan tentang keberadaannya di Banjarnegara lalu tiba-tiba ada longsor dan harus buru-buru dan terpisah dengan teman-teman. Linda langsung membuka matanya dan di depannya ada ibunya yang membangunkannya, kemudiania berkata, “Kamu hanya mimpi, sudah ayo tidur, ingat sebelum tidur baca doa dulu supaya kamu tidak mimpi yang aneh-aneh”
“Baik, Bu.” Jawab Linda, akhirnya Linda tidur kembali dengan nyenyak sampai pagi.
“Masih ada, emangnya kamu mau apain kayu dan tali itu?” Tanya Ayah Linda,
“Aku mau buat rumah sang petualang untuk Chika agar ia senang dan betah disini!” Jawab Linda,
“Wah anak ayah sudah punya teman ya? Selamat ya!” Kata Ayah Linda,
“Iya ayah, tapi ayah tolong aku untuk buat rumah itu, boleh?” Tanya Linda,
“Ayah akan bantu kamu untuk mempererat tali pertemananmu bersama si Chika, tapi ini sudah malam, kita buatnya besok saja.” Kata Ayah Linda,
“OK ayah.” Jawab Linda. Jam 11.00 Linda masuk ke dalam kamarnya untuk tidur, lalu baru mungkin satu menit di kasur, Linda sudah mendengkur, dia sudah tertidur sangat nyenyak. Tengah malam tiba-tiba Linda keringat dingin dan berteriak-teriak, ternyata ia mimpi, ia memimpikan tentang keberadaannya di Banjarnegara lalu tiba-tiba ada longsor dan harus buru-buru dan terpisah dengan teman-teman. Linda langsung membuka matanya dan di depannya ada ibunya yang membangunkannya, kemudiania berkata, “Kamu hanya mimpi, sudah ayo tidur, ingat sebelum tidur baca doa dulu supaya kamu tidak mimpi yang aneh-aneh”
“Baik, Bu.” Jawab Linda, akhirnya Linda tidur kembali dengan nyenyak sampai pagi.
Hari
Minggu pagi, Linda bangun dengan merasa segar namun masih memikirkan mimpinya
tadi malam, mungkin ia hanya mengalaminya dalam mimpi, namun Chika mengalami
sungguhan, maka dari itu ia bertekad untuk membangun segera rumah sang
petualang untuk teman pertamanya, Chika. Sesudah mandi, makan, dan memberi
makan angsa-angsa ia segera mengajak ayahnya untuk membuat rumah itu, akhirnya
mereka membuat rumah itu dan jadi jam 13.00, sesudah makan siang, ayah dan
Linda membawa rumah itu ke taman angsa lalu menjemput Chika jam 14.00. Jam
14.00, Linda menjemput Chika di rumahnya dan mengajak Chika ke Taman Angsa
sambil menutup mata Chika. Sampai di Taman Angsa, Linda membuka penutup mata
Chika lalu iamembuka matanya dan kaget melihat rumah sang petualang ada di
depan matanya. Linda lalu berkata,”Aku membuatkannya untukmu mungkin tidak terlalu
mirip, tapi mungkin ini bisa membuatmu senang disini.”
“Ini mirip sekali Linda! Terima Kasih banyak Linda.” Jawab Chika, lalu Chika berlari ke hadapan Linda lalu memeluk Linda dan berkata, “Kamu adalah sahabatku yang paliiiing baik!”,
“Kita sahabat?!” Linda kaget dan terkejut,
“Menurutmu?” Tanya Chika,
“Iya, Aku punya sahabat?!, Aku punya sahabat! Kau sahabat pertamaku Chika! Hore! Aku punya sahabat” Jawab dengan senang Linda,
“Dari seluruh sahabatku, engkaulah yang paling mengerti, peduli, baik, dan sejati denganku. Kau adalah sahabat sejatiku!” Kata Chika,
Lalu mereka serempak dengan bersama, “Sahabat Pertama, Sahabat Sejati!” Dan itulah nama persahabatan yang mereka buat untuk mereka.
“Ini mirip sekali Linda! Terima Kasih banyak Linda.” Jawab Chika, lalu Chika berlari ke hadapan Linda lalu memeluk Linda dan berkata, “Kamu adalah sahabatku yang paliiiing baik!”,
“Kita sahabat?!” Linda kaget dan terkejut,
“Menurutmu?” Tanya Chika,
“Iya, Aku punya sahabat?!, Aku punya sahabat! Kau sahabat pertamaku Chika! Hore! Aku punya sahabat” Jawab dengan senang Linda,
“Dari seluruh sahabatku, engkaulah yang paling mengerti, peduli, baik, dan sejati denganku. Kau adalah sahabat sejatiku!” Kata Chika,
Lalu mereka serempak dengan bersama, “Sahabat Pertama, Sahabat Sejati!” Dan itulah nama persahabatan yang mereka buat untuk mereka.
Komentar
Posting Komentar