Maafkan Diriku Ayah (Juara 1 cipta cerpen FLS2N 2016 tingkat kabupaten)
Maafkan Diriku Ayah
Aqila
Dwi Salsabila
24 Maret 2002, Rumah Sakit Calista
mempunyai pasien seorang ibu yang ingin melahirkan. Ibu tersebut ditemani oleh
suaminya yang sangat ia sayangi. Setelah sang suami menunggu beberapa jam, ia
dipanggil oleh dokter. Istrinya sudah melahirkan dan anaknya perempuan. Sang
suami sangat bersyukur, ia kemudian menemui istrinya dan mengadzankan anaknya.
Kemudian anak perempuan itu diberi nama Anna Utami. Anna Utami lahir di
keluarga yang kaya raya, ayahnya seorang pengusaha sukses (CEO) dan terkenal
sedang ibunya seorang kepala catering terkenal di Indonesia. Anna lahir menjadi
anak yang pintar, cerewet, cantik, tinggi, dan ceria serta ia sangat menyayangi
ibunya. Ketika Anna berumur 8 tahun,
tepatnya tahun 2010 ibunya mengandung seorang bayi lagi. Anna sangat senang dan
menanti adiknya.
Hari yang dinanti pun telah tiba,
saatnya ibunya Anna dibawa ke rumah sakit untuk melahirkan. Setelah ibunya Anna
masuk ke dalam ruangan bersalin, Anna bersama ayahnya duduk dan menunggu.
Tiba-tiba, sang dokter memanggil sang ayah dan mengajaknya ke ruangannya. Anna
yang belum tahu apa-apa, ia disuruh duduk dan menunggu. Sesampainya di ruangan,
dokter menjelaskan kepada sang ayah bahwa sang istri terkena penyakit dan
solusinya sang dokter hanya bisa menyelamatkan 1 nyawa, yaitu antara sang ibu
atau sang bayi. Dokter menyuruh sang ayah untuk memilih, sang ayah bingung dan
memohon kepada dokter untuk menyelamatkan kedua-duanya, namun dokter mengatakan
itu akan mustahil dan kemungkinannya sangat kecil. Suster datang ke ruangan
lalu memanggil ayahnya Anna untuk bertemu istrinya sesuai permohonan istrinya.
Sang suami berlari ke ruang bersalin dan menemui istrinya. Ia menangis dan
memeluk istrinya, sang istri pun berkata,
“Saya
sudah mendengarnya, Sayang. Selamatkanlah bayi kita. Kumohon. Anna sendirian
dan butuh teman, sedang kamu pasti kerja terus. Selamatkanlah bayi kita.”
“Mana
mungkin saya mau selamatkan bayi kita, lebih baik saya menyuruh dokter untuk
menyelamatkanmu!” kata sang suami sambil menangis.
“Kumohon,
selamatkan bayi kita. Kumohon…”
“Baiklah,
kalau itu maumu. Aku menyayangimu.”
“Iya,
Sayang. Jaga Anna baik-baik ya.”
Kemudian
mereka berpelukan sambil menangis. Sang suami memanggil dokter dan memutuskan
untuk menyelamatkan sang bayi. Ayah Anna keluar dari ruangan, Anna yang melihat
ayahnya ia berlari ke ayahnya kemudian menanyakan apa yang terjadi. Ayah Anna
hanya diam dan tersenyum kepada Anna, ia mengatakan untuk tetap bersabar, dan
maafkan ayahmu ini. Anna heran dan kembali duduk sambil bermain dengan iPadnya.
Sudah 1 jam berlalu, dan sang dokter
keluar dari ruangan dan menyampaikan sang bayi dalam keadaan sehat, laki-laki
dan sang istri telah meninggal dunia. Anna terkejut sampai iPadnya jatuh ke
lantai. Ia menangis lalu menanyakan kepada dokter. Dokter mengakatan ia
melakukan sesuai perkataan ayahnya. Anna terkejut dan memukul ayahnya. Ia tidak
percaya bahwa ayahnya lebih memilih bayinya ketimbang istrinya. Sang ayah
berusaha menjelaskan kepada Anna, namun Anna karena sudah emosi ia tidak ingin
mendengar alas an apapun. Hari itu Anna menulis dan menyimpan ke dalam hatinya
yang paling dalam, yaitu membenci sang ayah, dan ia sadar bahwa ayahnya tidak
memiliki hati. Anna lari menuju mobil dan menangis dalam mobil. Sang ayah masuk
ke ruangan, lalu mengadzankan bayinya, kemudian mengurus jenazah istrinya. Sesudah
sang istri dikubur, Anna tetap menyimpan kekesalannya terhadap ayahnya. Adiknya
diberi nama Roy Anshar.
1 tahun berlalu, yaitu tahun 2011.
Keadaan perusahaan sang ayah dan ibu mulai dalam bahaya. Perusahaan ibu rugi
bahan makanan dan harus tutup, sehingga catering sang ibu bangkrut. Kemudian
perusahaan ayah yang ditipu oleh rekan kerjanya, sehingga ia tutup dan
bangkrut. Hutang semakin banyak, dan collector berdatangan ke rumah untuk
menagih, sampai bank menyita rumah dan fasilitas lainnya. Yang tersisa tinggal
rumah kecil milik orang tua sang ayah dan 2 petak sawah serta kapal kecil yang
lengkap dengan peralatan untuk menangkap ikan. Akhirnya dengan terpaksa, Anna
bersama ayah dan adik meninggalkan kota dan tinggal di desa. Anna harus
berhenti sekolah karena uang sudah tidak cukup untuk membayar SPP, buku
pelajaran, dan membeli seragam, serta jas sekolah.
“D-E-S-A.” Ya, Anna sangat tidak
suka tinggal di desa. Ia merasa desa adalah tempat yang paling jorok. Sang ayah
hanya diam lalu mengangkat barang-barang dan memanggil angkot. Mereka naik ke
angkot dan pergi ke rumah. Sampai di rumah, Anna langsung menyimpan
barang-barangnya di kamar dan melarang seorang pun menaruh barang selain
barangnya, otomatis kamar tersebut menjadi kamar Anna sedang di rumah itu hanya
terdapat ruang tamu yang kecil, 1 kamar tidur, dapur, dan 1 kamar mandi kecil.
Ayah Anna menghela napas lalu menyimpan barang-barangnya dan barang Roy di
ruang tamu, kemudian ia berbaring di sofa kecil. Begitulah, Anna tidur di dalam
kamar bersama Roy sedang ayah tidur di luar.
Keseharian sang ayah saat ini yaitu
bangun pagi-pagi sebelum matahari muncul, ia mulai bersiap-siap dan merebus
jagung yang ada dibelakang rumah, sesudah makan jagung, ia berangkat ke laut
untuk menangkap ikan. Setelah itu hasil tangkapannya sebagian ia bawa ke pasar
untuk menjualnya kepada pedagang ikan. Sisanya ia bawa pulang untuk dimakan.
Ketika hari mulai siang, sang ayah pergi menuju sawah untuk membajak sawah.
Sedangkan Anna tinggal di rumah membersihkan dan merawat adiknya. Ia tidak
ingin keluar rumah karena merasa malu namun ia harus menjual kue untuk memenuhi
kebutuhan adiknya yang masih bayi. Anna sejak Subuh membuat kue barongko*. Setelah jadi, ia mulai
keliling sambil membawa adiknya untuk berjualan kue. Saat kue telah habis ia
harus singgah ke sawah mengantar bekal untuk ayahnya. Sesampainya di sawah, ia
melihat ayahnya yang membajak sawah.
“Ayah!
Nih bekalnya!” teriak Anna.
“Taruh
saja di pondok, Nak. Ayah masih kerja.” jawab sang ayah.
“Malas!
Lebih baik kutaruh di sini saja!”
“Baiklah.
Nak, bisa kah kamu bantu ayah untuk menanam padi?”
“Berapa
kali sih kubilang?! Aku tidak suka ke sawah! Ayah saja yang kerja! AKU SUDAH
CAPEK!
-Catatan: *Barongko adalah kue khas Sulawesi Selatan – Kue
yang bahan dasarnya pisang dan kue ini dikukus.
“Bapak
orang baru kah?” tanya sang petani itu.
“Iya,
Pak. Perkenalkan nama saya Abidin. Kalau kita?” jawab sang ayah sambil
tersenyum.
“Asekku i* Djono. Wah senangnya ada
petani baru di desa ini.”
“Terima
kasih, Pak. Eh, saya punya banyak makanan, mari pak kita makan.”
“Baik,
Pak. Terima kasih.”
Akhirnya
ayah Anna melupakan kejadian tadi dan berbincang serta bercanda dengan Pak
Djono.
Krek…
Bunyi pintu rumah yang dibuka Anna.
Ia sudah sampai di rumah. Ia sangat letih dan tidur sebentar. Setelah tidur, ia
bangun kemudian mengurus Roy dan memasak di dapur. Setelah semua selesai, Anna
mulai membuka handphone-nya dan mengobrol dengan temannya serta bermain game.
Anna mulai merasa bosan dengan gadgetnya. Ia menyimpannya lalu pergi
jalan-jalan mengelilingi desa untuk menghirup udara yang segar. Ketika
mengelilingi desa ia melihat banyak anak bergandengan tangan bersama ibunya, ia
juga melihat ibunya sangat senang. Ya, hari ini adalah hari ibu. Anna sedih
hingga menangis melihat kemesraan anak-anak di desa bersama ibunya. Anna lari
menuju pinggir desa yang terdapat pohon besar. Ia menyandarkan dirinya di pohon
dan menangis mengingat ibunya, tiba-tiba datang seorang nenek menghampirinya,
lalu…
“Kamu
kenapa menangis, Nak?”
“Aku
mengingat ibuku, Nek.”
“Memang
ibumu kemana?”
“Ibuku
sudah tidak ada!”
“Maafkan
nenek sudah bertanya seperti itu, Nak.”
“Tidak
apa-apa kok.”
“Jangan
tangisi orang yang sudah tiada karena jiwanya tidak akan tenang di sana.
Sebaiknya, kalau kamu merindukannya maka salatlah dan doakan dia, Nak.”
“Begitukah?
Baiklah, mulai sekarang aku mau salat dan mendoakan ibuku. Terima kasih, Nek.”
“Iya,
Nak. Sama-sama.”
Anna berlari pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia segera mengambil air wudhu kemudian salat Ashar. Ia menangis sambil berdoa kepada-Nya. Setelah selesai berdoa, Anna merasa lebih tenang dan bertekad untuk lebih rajin lagi salat serta mengaji.
-Catatan : *Asekku i.. = nama saya...
“Ayah pulang!” kata ayah Anna
Seperti biasa, sang ayah pulang
pukul 19.00 WITA. Setelah membersihkan diri, sang ayah duduk di lantai dan
saatnya makan malam. Anna menggendong adiknya, lalu mengambil makanan di dapur
yang ia sudah masak tadi. Setelah makanan sudah siap, Anna mengambil piring
lalu menyendokkan nasi ke piringnya serta sayur kangkung dan ikan yang sudah di
tangkap ayahnya kemarin, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya, sedang sang ayah
dan Roy makan di luar. Anna tidak mau makan bersama ayahnya karena masih marah
dan jengkel dengan kelakuan ayahnya dulu. Roy yang kini sudah mulai bisa makan
sendiri dan belajar berjalan makan bersama ayahnya. Selesai makan, Anna
mengumpulkan piring-piring kotor dan menaruhnya di wastafel. Sang ayah
meluruskan badan di sofa dan tertidur. Anna mengambil Roy dan tidur bersamanya
di kamar.
Sudah 2 tahun berlalu, Anna semakin
besar sama halnya dengan Roy. Kini Roy sudah besar dan ingin membantu ayahnya
menangkap ikan dan menjaga sawah. Anna yang masih marah dengan ayahnya ia tetap
ingin tinggal di rumah dan sekarang ia sudah berhenti jualan kue.
“Kak,
ayo ikut! Kita pergi menangkap ikan!” sorak Roy.
“Malas!
Kalian aja yang pergi!” jawab Anna.
“Ayolah,
Nak. Sekali-kali kamu keluar rumah. Sudah jarang kamu keluar rumah.” ujar sang
ayah sambil tersenyum.
“Kalau
kubilang malas, ya malas! Kan gara-gara ayah sendiri aku tidak mau
keluar-keluar sekolah. Seandainya aku masih sekolah, pasti aku akan keluar
sekolah!” kata Anna dengan kasar.
Ayah tersenyum
lalu merangkul Roy dan menutup pintu. Anna yang sudah kesal masuk ke kamarnya
dan melempar-lempar bantal. Roy dan ayah sangat menikmati pergi menangkap ikan
dan menjaga sawahnya sambil membajaknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00
WITA dan ayah dengan Roy belum pulang. Anna mulai capek menunggu dan bermain
handphone-nya. Makanan yang sudah disiapkan 1 jam yang lalu mungkin sudah mulai
dingin. Setelah beberapa menit akhirnya sang ayah dan Roy pulang. Anna hanya
menghiraukannya. Roy mulai menyuruh sang ayah duduk dan Roy mulai mengambilkan
minum untuk ayahnya. Mereka lambat pulang karena sang ayah yang sangat letih
dan kepalanya sakit sehingga harus jalan pelan-pelan. Setelah sang ayah minum
air hangat, Roy memanggil Anna dan ayah untuk makan. Ketika sang ayah mulai
berdiri dari sofa, ia jatuh pingsan. Roy lari ke ayahnya, Anna terkejut melihat
ayahnya jatuh pingsan. Ia lari dan duduk di samping adiknya. Roy yang menangis
melihat ayahnya dan ia menyuruh kakaknya untuk menolong ayah. Anna yang tidak tau
apa-apa dan hanya melihat adiknya memeluk ayahnya. Roy melihat kakaknya, dan ia
bercerita apa yang dia dengar dari ayahnya tadi siang di sawah, yaitu cerita
saat Roy dilahirkan. Setelah mendengar cerita dari Roy, Anna terkejut dan mulai
meneteskan air mata. Ia telah salah besar menuduh ayahnya selama ini. Anna
untuk pertama kalinya lagi memeluk ayahnya dan menangis. Roy yang melihat
kakaknya sudah mengetahui semuanya dan ia melihat kakaknya berusaha untuk
menolon ayahnya, ia segera lari ke rumah dokter desa untuk meminta bantuan.
Anna mencoba untuk membangunkan ayahnya, namun ayahnya tidak bangun-bangun.
Tok..tok..tok..
“Tunggu.”
seseorang menyahut dari dalam rumah. Lalu terbukalah pintu rumah tersebut.
“Maga
ii*, Nak?” ujar dokter.
“Tolong
ayah saya, Dok. Ia tidak sadarkan diri dari tadi!” jawab Roy dengan tangisan.
“Baiklah.
Ayo kita pergi sekarang, Nak.”
-Catatan : Maga ii* = Kenapa
Sesampainya
di rumah, dokter yang sudah memanggil para warga untuk membantu mengangkat ayah
ke puskesmas desa. Setelah sampai di puskesmas, dengan segala cara dokter
menyelamatkan sang ayah dari komanya, dan tiba-tiba sang ayah bangun dari
komanya. Semua orang senang termasuk Anna dan Roy. Sebelumnya, dokter
mengatakan bahwa sang ayah sudah terkena penyakit kanker otak stadium 4B
(stadium lanjut). Anna yang dulu sudah mempelajari penyakit tersebut saat
sekolah sangat terkejut dan menangis mendengarnya, Roy yang tidak mengerti
tetap memeluk kakaknya.
“Ayah,
ayah maafkan aku ayah!” kata Anna sambil menangis.
“Kamu
kenapa, Nak? Ayah dimana?” kata sang ayah.
“Ayah
sekarang ada di puskesmas. Tadi ayah pingsan di rumah.” jawab Roy.
“Ouu..”
“Ayah?
Maafkan Anna, Ayah. Anna tidak tau selama ini ternyata ibu yang menyuruh ayah
untuk menolong Roy.” kata Anna.
“Iya,
Nak. Biarpun kamu tidak minta maaf, ayah tetap memaafkanmu karena kau tidak tau
apa yang terjadi. Sekarang kamu harus berjanji.”
“Janji
apa, Ayah? Aku akan menepatinya. Pasti!”
“Janji
kepada ayah kamu harus menjaga adikmu baik-baik. Sekolah lah, tabungan ayah
sudah cukup untuk kamu sekolah lagi. Jadilah anak yang sukses saat besar nanti,
ya! Serta ketika kamu sudah mempunyai anak nanti, katakan padanya bahwa salah
satu orang yang sukses ialah orang yang menghormati orang tuanya.”
“Pasti
ayah! Pasti!”
“Baiklah,
Nak. Mungkin ini saatnya ayah untuk meninggalkanmu dan pergi ke tempat lain.”
“Jangan
katakana itu, Ayah!”
Setelah
ayah Anna mengatakan kata terakhirnya, ia pun menghembuskan napas terakhirnya.
Anna bersama Roy memeluk ayahnya dan menangis di pelukannya.
Sejak ayah Anna dikubur di samping kuburan
orang tuanya, Anna mulai mendaftar di sekolah yang ada di kota dan ia lulus. Ia
tetap berjualan kue bersama Roy, ia tinggal di kos temannya yang dekat dari
sekolahnya. Ia tetap meraih cita-citanya sampai ia dapat masuk ke perguruan
tinggi favorit dengan jalur undangan. Anna menjadi siswa terbaik di
fakultasnya, yaitu fakultas kedokteran, sedan Roy masuk di fakultas MIPA. Anna
kini menjadi dokter ahli penyakit bagian dalam sedang Roy menjadi guru fisika
di sekolah unggulan yang terkenal. Sekarang Anna menjadi anak yang sukses dan
ia tetap mengingat pesan ayahnya dulu. Dia tetap selalu mendoakan kedua
keluarganya.
Selesai
Komentar
Posting Komentar