Cerpen Bandu


Tahun 1915, dimana Indonesia masih dijajah oleh pasukan Belanda, disitulah ia terlahir. Ya, dia diberi nama Bandu. Ia dibesarkan dengan kegelapan dan ketakutan. Setiap detik ketika para penjajah mulai memaksa orang-orang untuk bekerja, ia hanya bisa bersembunyi di ruang bawah tanah bersama ibunya sambil berpelukan, ia menangis karena selalu melihat ayahnya disiksa oleh para penjajah dan ia hanya bisa makan ubi rebus, dimana beras yang ditanam harus diserahkan kepada pasukan Belanda sebagai hasil kerja.
Tahun demi tahun berlalu, Bandu pun sudah semakin beranjak dewasa. Ia juga mulai terbiasa dengan peperangan yang terjadi di sekitarnya. Ia mulai memberanikan diri untuk membantu ayahnya, meski ia tahu bahwa ia akan disiksa. Ibunya sempat melarangnya, namun Bandu tetap bersikeras untuk membantu ayahnya.
Pekerjaan pun dimulai. Kali ini para penjajah itu menyuruh orang-orang bekerja untuk membuka jalan dari kampung Bandu, Bone ke Makassar. Mereka tidak diberi makan apapun, mereka hanya disuruh bekerja dan bekerja terus, dan hanya boleh pulang saat tengah malam. Disekeliling Bandu orang-orang mulai berjatuhan dan meninggal seketika karena kecapean. Bandu yang kasihan melihat orang-orang mulai pada saat itu ia bertekad untuk berjuang agar Indonesia tak dijajah lagi.
“Selesai!” teriak Bandu. Akhirnya perjuangan para rakyat membuka jalan selesai. Ya, kini mereka hanya tersisa sedikit, dan ia bersama ayahnya masih dapat hidup. Saat itu Bandu sudah dewasa dan ia siap membela tanah air. Ia pergi merantau ke Sumatra untuk membela Indonesia, disaat yang sama Belanda menyerah menjajah Indonesia dan digantikan oleh Jepang. Pertama, Bandu senang akhirnya Belanda menyerah dan Jepang  mau membantu Indonesia untuk merdeka, namun janji Jepang hanyalah kata saja. Ternyata penyiksaan Jepang lebih keras daripada Belanda. Bandu pun kembali pulang ke Bone untuk membela daerahnya. Pertempuran sengit terjadi, sang ayah jatuh dan ia meninggal dalam perang, Bandu tak dapat menahan kesedihannya. Akhirnya sang ibu pun memutuskan agar Bandu menikah agar ada yang dapat menemani sang ibu. Bandu pun menikah dengan gadis sabar dan jago membuat obat herbal, namanya Unna.
1 tahun berlalu, kini Bandu sudah mempunyai 1 anak, dan sekarang istrinya sedang mengandung lagi. Bandu sekarang ingin pergi merantau ke Sumatra lagi, ingin bergabung dengan pejuang-pejuang lainnya, akhirnya sang istri ditinggal bersama ibunya. Sesampainya di Sumatra, Bandu ditangkap oleh para pasukan Jepang. Ia ditawan menuju ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, setelah berbulan-bulan akhinya ia dibebaskan. Lalu Bandu diikutkan dalam PETA (Pasukan Pembela Tanah Air). Bandu ditugaskan untuk PETA di Surabaya. Akhirnya ia bersama pejuang-pejuang lainnya menuju ke Surabaya dan melalukan perang disana.
2 tahun berlalu, akhirnya sudah tahun 1945. Bandu bersama PETA masih berjuang. Tanggal 17 Agustus 1945, hari dimana semua selesai, dan Indonesia merdeka. Bandu bersama pasukan lain menyanyikan lagu Indonesia Raya, setelah itu mereka merayakan kemerdekaan Indonesia. Setelah semua selesai, Bandu kembali ke kampungnya untuk menemui ibunya dan istrinya. Sesampainya di Bone, ia dijemput oleh 1 anak gadis dan 1 perempuan kecil, ya istrinya sudah melahirkan 2 tahun lalu dan sekarang anaknya sudah besar-besar. Mereka berpelukan lalu Bandu pun menceritakan bagaimana peperangan terjadi. Setiap anak-anaknya mau tidur ia selalu menyanyikan lagu Nippon karena hanya lagu itulah yang ia tahu dan lagu itu yang sering ia dengar.
Meski Indonesia sudah merdeka, namun tetap saja masih ada pemberontakan, yaitu pemberontakan DI-TII. Karena Bandu sudah tak ingin ikut untuk memberhentikan pemberontakan karena anak-anaknya sudah banyak dan ia harus melindungi mereka, maka setiap ada pembakaran lahan, rumah, mereka hanya bisa bersembunyi di ruang bawah tanah. Ia masih harus makan ubi rebus karena beras-berasnya dihancurkan oleh pemberontak. Karena Bandu sudah tak tahan melihat rumah-rumah dihancurkan akhirnya ia kembali pergi untuk memberhentikan pemberontakan. Meski ia sudah tak kuat lagi, namun ia tetap semangat melawan para pemberontak agar negaranya menjadi aman dan damai.
2000, kini umur Bandu sudah 85 tahun, sang ibu pun sudah meninggal bertahun-tahun lalu, anak-anaknya sudah sukses di Makassar, kini ia hanya tinggal bersama istri dan anak pertamanya. Tahun 2008, ia harus kembali bersedih karena sang istri meninggalkannya duluan. Bandu tak mau makan apa-apa karena merasa kesepian, namun karena bujukan dari cucu dan cicitnya membuat ia kembali bersenang. Agar ia tak bersedih, setiap lebaran idul fitri semua anaknya, cucunya, dan cicitnya datang ke Bone untuk merayakan lebaran bersama-sama. Setiap malam setelah lebaran ia kembali bercerita tentang perjuangannya dulu dan menyanyikan lagu-lagu Nippon. Setiap pagi ia selalu bersemangat mengambil kelapa untuk cucu-cicitnya. Ia masih kuat seperti dulu. Namun sayangnya, para anaknya tak mengurus veteran (sertifikat sebagai pembela tanah air, dan gaji untuk membela tanah air) dan Bandu sendiri tidak tahu bahwa ada seperti itu, sehingga ia tak pernah diketahui bahwa ia salah satu pejuang pembela tanah air. Sampai hari itu tiba.
2016, lebaran idul fitri, semua keluarganya kembali datang. Kini, Bandu tak bisa bangun ditempat tidur, sehingga ia hanya dibaringkan di kamarnya, dan satu-per satu keluarganya salim dengannya. Namun Bandu sangat senang karena keluarganya masih ingin melihatnya meski ia sudah sangat tua. 13 Agustus 2016, pada pagi hari Bandu sudah sekarat, keluarga mulai berdatangan dan bersedih, akhirnya ia pergi untuk selama-lamanya pada malam hari setelah melihat semua keluarganya berkumpul, ia pun pergi dalam umurnya yang 101 tahun dan ia menjadi pejuang tertua di kampungnya, meski ia tak diketahui.
Ya, itulah kisah kakekku, saya sebagai cicitnya, merasa bangga punya kakek seperti dia, tak pernah menyerah, dan tetap menerima ia tak diketahui meski ia ikut memperjuangkan Indonesia.
Semoga Etta tenang disana. 1915-2016


Aqila Dwi Salsabila

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku

Pejuang di Tapal Batas